Ikuti Imbauan Pemerintah, Karyawan Pura Group Sebagian WFH

BETANEWS.ID, KUDUS – Ketegangan perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran mulai berdampak langsung ke Indonesia. Konflik yang memanas sejak akhir Februari 2026 itu memicu langkah Iran membatasi akses di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi dan mendorong berbagai negara, termasuk Indonesia, mengambil langkah antisipatif. Gangguan di Selat Hormuz dinilai berpotensi menaikkan biaya logistik, harga energi, hingga berdampak pada stabilitas ekonomi nasional.

Merespons situasi itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan efisiensi energi, salah satunya melalui imbauan penerapan Work From Home (WFH) minimal satu hari dalam sepekan mulai 1 April 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan konsumsi bahan bakar di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.

-Advertisement-

Menyikapi kebijakan tersebut, Pura Group mulai menerapkan skema kerja fleksibel bagi sebagian karyawan, khususnya pada fungsi back office.

Direktur HR-GA Pura Group, Agung Subani, menyatakan perusahaan pada prinsipnya mendukung kebijakan pemerintah, namun penerapannya dilakukan secara selektif.

“Skema WFH dapat diterapkan pada fungsi-fungsi tertentu yang bersifat work anywhere, sepanjang tidak mengganggu efektivitas kerja,” ujar Subani melalui siaran tertulisnya, belum lama ini.

Baca juga : Menteri LH Apresiasi RDF PT Pura, Diminta Gandakan Kapasitas untuk Bantu Penanganan Sampah Kudus

Meski demikian, ia menegaskan, bahwa kebijakan tersebut tidak bisa diterapkan secara menyeluruh. Untuk lini produksi, kegiatan tetap berjalan normal karena membutuhkan kehadiran fisik pekerja.

“Untuk operasional pabrik tetap berjalan seperti biasa, dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan ketenagakerjaan,” tambahnya.

Penerapan WFH di Pura Group saat ini berlaku lima hari kerja untuk karyawan kantor perwakilan, dan direncanakan akan diperluas ke seluruh staf unit produksi mulai 16 April 2026.

Selain itu, perusahaan juga menyiapkan langkah efisiensi lain, seperti armada bus karyawan yang menghubungkan Semarang, Kudus, dan beberapa wilayah di Kabupaten Kudus.

“Kebijakan bus karyawan ini sebenarnya sudah diterapkan sebagai antisipasi selama pandemi Covid-19, namun kini efektif dalam menekan biaya transportasi dan konsumsi bahan bakar,” bebernya.

Dia mengungkapkan, dampak kenaikan harga minyak dunia paling terasa pada sektor bahan baku tertentu, khususnya produk percetakan solventbase yang banyak digunakan untuk plastik dan aluminium.Pura Group pun melakukan strategi mitigasi, mulai dari pencarian bahan substitusi hingga efisiensi proses produksi dan kalkulasi harga produk.

“Semoga krisis global ini cepat berlalu, sehingga iklim usaha kembali normal dan ancaman terhadap tenaga kerja bisa diminimalkan,” harapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER