BETANEWS.ID, KUDUS – Sepinya jumlah pengunjung di kawasan wisata Taman Krida Kudus menjadi perhatian pelaku wisata setempat. Pengamat sekaligus pelaku wisata Kudus, Yusuf, menilai kawasan tersebut sangat potensial untuk dikembangkan menjadi pusat wisata edukasi anak di tengah kota.
Menurut Yusuf, konsep wisata edukasi saat ini masih minim di Kabupaten Kudus, padahal kurikulum pendidikan mewajibkan adanya kegiatan outing class bagi siswa. Kondisi itu membuat sekolah kerap kesulitan mencari lokasi edukasi yang representatif di dalam kota.
“Di Kudus ini wisata edukasi anak masih sangat kurang. Padahal sekarang ada kurikulum yang mewajibkan outing class. Yang agak ramai baru Kampung Kuto dengan aktivitas tanam padi, itu pun baru muncul,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Liburan Sekolah, Joglo Dopang Jadi Destinasi Wisata Idaman di Kudus
Ia menilai Taman Krida dengan luas lahan sekitar 1,2 hektare sangat memadai untuk dikembangkan sebagai kawasan edukasi sekaligus rekreasi keluarga. Konsep yang ditawarkan, lanjut Yusuf, bisa mengarah pada playground anak yang dipadukan dengan unsur edukasi.
“Saya lebih condong ke konsep playground untuk anak sekaligus edukasi. Jadi anak bisa bermain, tapi tetap belajar. Seperti pusat edukasi, spot swafoto, dan wahana permainan,” terangnya.
Yusuf mencontohkan konsep wisata edukasi yang kini viral seperti Embung Batara Sriten (Embarbo) di Sleman atau wisata Santera di Malang, yang menggabungkan edukasi, taman tematik, hingga spot foto untuk berbagai kalangan usia.
“Bayangan saya seperti Embarbo di Sleman, luasannya hampir sama dengan Taman Krida. Bisa dibuatkan mini zoo, taman burung, atau wahana edukasi lainnya. Itu cocok untuk anak-anak,” katanya.
Tak hanya siang hari, CEO Pijar Park tersebut juga mengusulkan agar kawasan wisata di Taman Krida bisa dihidupkan pada malam hari dengan konsep wisata tematik, seperti taman lampion yang pernah viral atau wahana permainan yang menyasar pada generasi muda.
“Wisata jangan hanya hidup pagi sampai sore. Malam juga bisa dihidupkan, seperti dulu taman lampion pernah viral. Bisa konsep seperti Batu Secret Zoo Night di Malang, tapi disesuaikan dengan kondisi Kabupaten Kudus,” jelasnya.
Terkait skema pembiayaan, Yusuf menyarankan agar pengunjung bisa masuk kawasan wisata secara gratis, sementara pembayaran hanya diberlakukan untuk wahana permainan tertentu, dengan catatan tidak menyaingi pelaku usaha di sekitar lokasi.
Baca juga: Pijar Jeep Adventure Hadirkan Alas Pijar 2, Sajikan Sensasi Wisata Alam hingga Makanan Khas Pedesaan
“Masuk gratis dulu, nanti bayar di masing-masing wahana. Yang penting jangan mematikan usaha warga sekitar,” imbuhnya.
Ia mengatakan, adanya aula yang ada di kawasan Taman Krida dinilai tetap perlu dipertahankan sebagai fasilitas pertemuan dan kegiatan masyarakat.
“Aula tetap dipertahankan karena fungsinya penting untuk acara, reuni, dan pertemuan. Tinggal bagaimana konsep besarnya, grand design-nya yang harus ditingkatkan,” terangnya.
Ia berharap Pemkab Kudus dapat segera merealisasikan konsep wisata edukasi di tengah kota, sejalan dengan visi kepala daerah yang ingin menghadirkan wisata ramah anak dan edukatif.
Editor: Suwoko

