BETANEWS.ID, JEPARA – Keranjang bambu atau biasa disebut tombong berisi garam tampak berjejer rapi di pematang lahan tambak garam yang tersebar di daerah pesisir Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.
Tombong yang berjejer di setiap pematang lahan tambak garam, bisa mencapai sekitar 8-10 tombong.
Baca Juga: MBG di Jepara Punya Skema Baru, Sebelum Disalurkan Harus Ada Persetujuan Kepala Puskesmas
Hal itu menjadi penanda mulainya masa panen raya garam yang hanya bisa dilakukan pada saat musim kemarau.
Lahan tambak garam yang biasanya sepi, kini mulai menampakkan aktivitas para petani garam. Mereka biasanya memanen garam saat pagi dan sore hari.
Nurudin (33), salah satu petani garam asal Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak yang menggarap lahan tambak garam di Desa Bulakbaru, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara bercerita di musim panen raya tahun ini, hasil produksi garam mengalami penurunan.
Hal itu disebabkan karena mundurnya masa musim kemarau pada tahun ini. Di tahun sebelumnya, Nurudin bercerita, petani biasanya mulai bisa panen garam sekitar Bulan Agustus-September. Sedangkan di tahun ini, karena masih sering terjadi hujan, petani baru bisa memulai masa panen pada Bulan Oktober.
“Kalau tahun kemarin cuacanya kan lebih bagus dibanding tahun ini, hasilnya bagus tahun lalu,” kata Nurudin saat ditemui Betanews.id, Sabtu (11/10/2025).
Pada tahun ini, Nurudin yang menggarap lahan dengan luas satu bahu atau 3/4 hektare, hanya bisa memanen 10 tombong garam per hari dengan berat sekitar 80 kg per tombong. Sedangkan di tahun lalu, di masa panen raya ia bisa memanen sekitar 15 tombong per hari.
“Tapi ini untuk harga cenderung bagus, kisaran Rp120-130 ribu per tombong, kalau tahun lalu Rp60-70 per tombong. Jadi ada keuntungan untuk petani,” ungkapnya.
Hal serupa juga turut diungkapkan oleh Amir (37), petani garam asal Desa Panggung, Kecamatan Kedung yang menggarap lahan tambak garam di Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung.
Amir yang saat ini menggarap lahan seluas 2,5 hektare, dalam sehari hanya bisa memanen sekitar 40 tombong garam. Sedangkan di tahun sebelumnya, dalam sehari ia bisa mendapatkan garam sekitar 60 tombong.
“Tahun ini hasilnya ngga bisa maksimal, maksimal yang tahun kemarin. Karena hujan,” ungkap Amir.
Hal itu, menurut Amir akhirnya berpengaruh pada dimulainya masa petani mengolah lahan tambak garam. Jika pada tahun sebelumnya, petani sudah bisa memulai mengolah lahan tambak garam sekitar bulan April-Mei, tahun ini baru bisa dimulai sekitar bulan Juni-Juli.
Baca Juga: Enam Siswa Mundur, Jumlah Siswa SR Cadangan di Jepara Juga Hanya Tinggal Enam
Untuk itu, Amir berharap masa panen raya bisa berlangsung cukup lama hingga bulan Januari mendatang.
“Harapannya sampe Januari semoga masih bisa panen,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

