BETANEWS.ID, KUDUS – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia, Dody Hanggodo, melakukan peninjauan ke Bendungan Logung Kudus pada Sabtu (6/9/2025). Kunjungan ini bertujuan memastikan peran strategis bendungan untuk program ketahanan pangan, terutama padi.
Dody tiba di Bendungan Logung sekitar pukul 11.00 WIB. Usai meninjau bendungan, rombongan melanjutkan kunjungan ke area persawahan di Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, yang sebagian besar irigasinya mengandalkan pasokan air dari bendungan tersebut.
Baca Juga: Peringati Maulid Nabi, Masjid Agung Kudus Gelar Khitan Massal untuk 150 Anak
Dalam kesempatan itu, Dody menyampaikan bahwa Bendungan Logung telah memberikan manfaat besar bagi petani di Kudus dan sebagian kecil wilayah Kabupaten Pati. Menurutnya, keberadaan bendungan tersebut membuat produktivitas pertanian meningkat signifikan.
“Sebelum ada bendungan ini, petani hanya bisa panen satu hingga dua kali setahun. Sekarang mereka bisa panen sampai tiga kali,” ungkap Dody kepada awak media di sela kunjungannya.
Bendungan Logung yang memiliki kapasitas tampung 20,15 juta meter kubik terbukti mampu meningkatkan indeks pertanaman hingga 300 persen. Hal ini menjadikan bendungan sangat vital bagi sistem irigasi pertanian di wilayah Kudus.
Selain untuk kebutuhan pertanian, keberadaan bendungan juga berdampak positif terhadap mitigasi bencana. Intensitas banjir di Kudus disebut berkurang cukup signifikan sejak bendungan beroperasi.
“Ke depan, Bendungan Logung tidak hanya untuk irigasi pertanian, tetapi juga akan kami dorong untuk mendukung kebutuhan air baku masyarakat di Kota Kretek,” tambahnya.
Manfaat bendungan juga dirasakan langsung oleh para petani. Salah satunya adalah Badrudin, warga Desa Hadiwarno. Ia menyebut, sejak adanya Bendungan Logung, petani bisa memanen padi hingga tiga kali dalam setahun, berbeda dengan sebelumnya yang hanya dua kali.
“Kami bersyukur dengan adanya Bendungan Logung. Irigasi jadi lancar, hasil panen tetap stabil, bahkan di musim tanam ketiga bisa mencapai rata-rata tujuh ton gabah per hektare,” jelas Badrudin.
Baca Juga: Progres Perbaikan Jalan Kudus-Purwodadi Capai 33 Persen, BMCK Jateng Upayakan Kejar Target
Ia menambahkan, keuntungan lain dari musim tanam ketiga adalah harga gabah yang cenderung lebih tinggi. Kondisi ini terjadi karena banyak daerah lain tidak bisa menanam padi akibat keterbatasan air.
“Dengan panen tiga kali dan harga gabah lebih baik, penghasilan kami tentu meningkat. Ini sangat membantu kesejahteraan petani di sini,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

