BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan pelajar jenjang sekolah menengah pertama (SMP) baik negeri maupun swasta di Kabupaten Kudus ikuti program Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), Kamis (11/9/2025). Kegiatan yang diselenggarakan di Pusat Belajar Guru (PBG) itu meliputi tujuh cabang lomba Bahasa Jawa.
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Kabupaten Kudus, Noor Erlina Lidiastuti menyampaikan, adanya kegiatan itu bertujuan untuk melestarikan atau nguri-uri Bahasa Jawa. Menurutnya, Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu untuk terus dipertahankan secara turun menurun.
Baca Juga: 104 Hasil Kajian Koleksi Museum Kretek Diseminarkan ke Publik
“Kalau tidak kita uri-uri, Bahasa Jawa akan luntur ke depannya. Sehingga agar anak cucu kita nanti mengerti tentang Bahasa Jawa, salah satu upaya yang kita lakukan seperti ini,” katanya saat ditemui di sela kegiatan, Kamis (11/9/2025).
Ia mengatakan, ada 30 SMP negeri dan swasta dengan jumlah peserta 241 orang yang ikut serta dalam acara tersebut. Sementara, ada tujuh cabang yang diperlombakan, mulai dari lomba sesorah atau pidato Bahasa Jawa, nulis dan membaca aksara Jawa, cerita pendek (cerkak), membaca geguritan, nembang macapat, dagel, dan mendongeng dengan Bahasa Jawa.
“Jumlah peserta kali ini, sudah melebihi target kami. Antusias mereka juga luar biasa dalam mengikuti lomba di tahun ini,” tuturnya.
Ia menyebut, lomba dongeng di tahun ini agak berbeda dengan tahun sebelumnya. Di mana tahun lalu peserta membawakan cerita dengan lenda asal usul desa, kali ini mereka dituntut membawakan cerita tentang fabel atau hewan yang ada di sekitar menjadi sebuah cerita.
“Biar ada nuansa baru, tema diganti dengan fabel (hewan). Kebetulan di Kudus untuk fabel kan langka, tapi kita dituntut untuk menciptakan fabel di daerah masing-masing. Ini menjadi pr buat guru pendamping, karena di Kudus jarang fabel, nah kita harus mengemas legenda fabel menjadi sebuah cerita,” ujarnya.
Prestasi membanggakan pelajar Kudus, kata dia, seorang pelajar asal Kudus mewakili Provinsi Jateng tampil di tingkat FTBI Nasional 2025, dalam lomba dagel. Sayangnya, perwakilan Kudus belum bisa mendapatkan nomor di tingkat nasional itu.
“Perwakilan itu dari penjaringan FTBI mulai dari tingkat Kabupaten Kudus pada 2024, lalu melaju FTBI tingkat provinsi, hingga mewakili Provinsi Jateng ke nasional,” sebutnya.
Dia berharap, penyelenggaraan FTBI di tahun-tahun berikutnya, bisa lebih ramai dan semarak. Supaya upaya pelestarian budaya itu tidak luntur terhempas waktu.
“Kita juga upayakan agar penyelengaraan ini sportif, dengan adanya dewan juri tidak hanya dari guru tapi juga praktisi, termasuk ada dari Pati, Jepara. Agar bisa netral sehingga bisa mendapatkan hasil juara terbaik,” terangnya.
Baca Juga: Target 33 Ribu Pekerja Rentan, Ojol Kudus Mulai Didata untuk BPJS Ketenagakerjaan Gratis
Salah satu peserta, Inne Rihhadatul Aisy dari SMP 2 Jati mengaku senang bisa mengikuti lomba. Turun di katagori dongeng, ia ingin tampil dengan cerita ‘Elang Muria Sobo Logung’.
“Ini pengalaman pertama kali, jadi agak demam panggung dan grogi. Harapannya bisa juara,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

