BETANEWS.ID, KUDUS – Memasuki masa kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kudus 2024, tim sukses kedua calon bupati dan wakil bupati terus bergerak mencari suara. Pengamat Politik Kabupaten Kudus, Hendrik Marantek, menilai, hingga saat ini peluang perolehan suara paslon Hartopo-Wahib cukup tinggi dan mencapai 63 persen.
Marantek mengatakan, sesuai pengamatannya, ada tiga indikator yang menjadikan Hartopo-Wahib lebih unggul dari Sam’ani-Bellinda. Pertama, paslon yang mempunyai tagline TOP Berkah tersebut sudah membentuk punya tim pemenangan di tingkat RT mencapai lebih 80 persen.
“Sementara sesuai pengamatan saya di lapangan, per hari ini pembentukan tim pemenangan di tingkat RT paslon Sam’ani-Bellinda baru dikisaran 10 persen,” ujar Hendrik kepada Betanews.id di salah satu coffee shop di Kudus, Senin (30/9/2024).
Baca juga: Dapat Nomor Urut 2, Hartopo-Wahib Optimis Menang dan Raih 80% Suara
Faktor kedua, lanjut Marantek, adalah kepopuleran Hartopo yang notabene incumbent Bupati Kudus. Kemudian, Mawahib Afkar adalah seorang politikus dan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah. Yang bersangkutan juga dikenal sebagai orang Nahdlatul Ulama (NU).
“Di Kudus ini mayoritasnya adalah warga NU. Mereka cenderung akan menjatuhkan pilihannya kepada Hartopo-Wahib di Pilkada Kudus 2024,” beber mantan anggota DPRD Kudus tersebut.
Selain itu, dia melihatnya, tim pemenangan Hartopo-Wahib lebih siap, solid, dan matang. Apalagi, di kubu Hartopo-Wahib ada sosok Nusron Wahid yang merupakan kakak kandung Mawahib Afkar.
“Nusron Wahid ini dikenal sebagai politisi kondang, bahkan di tingkat nasional. Saya meyakini beliau akan all out untuk mendukung Mawahib diPilkada Kudus 2024,” sebutnya.
Baca juga: Dapat Nomor Urut 1, Sam’ani: ‘Sesuai Mimpi dan Doa Ibu’
Oleh karena itu, Marantek menilai, hingga saat ini Hartopo-Wahib berpeluang meraup suara sebanyak 63 persen, sementara Sam’ani-Bellinda sekira 37 persen.
Terkait pasangan Sam’ani-Bellinda yang bergerak lebih dahulu, Marantek menganggap, bahwa hal itu sebagai bentuk pengenalan, bukan pembentukan tim pemenangan.
“Mereka itu hanya pengenalan, karena keduanya bukan dari politikus. Pak Sam’ani dari ASN dan yang satunya adalah akademisi yang baru lulus,” katanya.

