BETANEWS.ID, PATI – Ratusan warga dari berbagai desa berdatangan di Punden Mbah Kopek yang berada di Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Pati, Kamis (30/5/2025). Mereka mengikuti upacara tradisi sedekah bumi dan kemudian berebut nasi berkat yang telah didoakan.
Kepala Desa Lahar, Sarwanto, menjelaskan, sebelum nasi berkat diperebutkan, kesenian pencak silat juga dipertontonkan. Setelah itu, rombongan perangkat desa melakukan upacara. Mereka mengelilingi punden tujuh kali dengan menuangkan air kendi. Air kendi itu kemudian digunakan sejumlah warga untuk membasuh muka dan badan.
”Memutar tujuh kali ini sebagai simbol tawaf saat berangkat haji. Dengab tujuan berdoa agar masyarakat Desa Lahar diberikan kesehatan, ampunan oleh Allah dan diberikan rezeki yang halal dan berkah,” ujarnya.
Baca juga: Melihat Keseruan Rebutan Gunungan dan Berkatan di Sedekah Bumi Desa Jrahi
Usai prosesi mengelilingi punden tujuh kali, ratusan warga dari sejumlah desa pun langsung menyerbu tempat nasi berkat. Mereka kemudian berebut ribuan nasi berkat tersebut yang diwadahi tlandik.
”Setiap keluarga mengumpulkan dua tlandik. Sedangkan untuk KK di desa sini ada 1.670 KK. Jadi ya ada 3.400-an tlandik,” ungkapnya.
Ribuan nasi berkat itu pun ludes dalam hitungan menit. Warga rela berdesak-desakan untuk mendapatkan nasi berkat yang telah didoakan. Mereka percaya, nasi berkat tersebut membawa berkah usai didoakan.
Salah satu warga yang rela berebut itu yakni, Endang Susilowati. Ibu rumah tangga asal Desa Sumbermulyo itu berhasil memperoleh 9 nasi berkat tlandik. Sebanyak tiga nasi berkat, diberikan kepada orang lain. Sisanya ia bawa pulang.
”Mau saya jemur setelah itu disebar di sawah,” kata dia.
Baca juga: Perang Obor, Tradisi Ekstrem Penolak Balak di Tegalsambi Jepara
Ia meyakini nasi berkat dari Sedekah Bumi Desa Lahar ini bisa menyuburkan tanaman dan memberikan keberkahan. Tentunya, mereka meyakini nasi berkat tersebut hanya perantara. Semua yang menentukan hanya Tuhan YME.
”Sebagian kami berikan ke tetangga. Itung-itung ikut sedekah,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

