Perang Obor, Tradisi Ekstrem Penolak Balak di Tegalsambi Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Lantunan azan dan air kendi yang disiramkan mengelilingi rombongan kirab menjadi pertanda mulainya prosesi Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Senin (21/5/2024). Usai Ikamah, seorang perangkat desa kemudian menyalakan obor dan rombongan kirab berjalan dari kediaman Petinggi menuju perempatan desa.

Modin Desa yang memimpin rombongan perangkat kemudian melantunkan doa serta selawat dengan menyalakan sesaji yang di atas piring tanah. Tujuannya adalah meminta pada Tuhan agar selama kegiatan berlangsung aman dan lancar. Mereka berjalan menuju perempatan desa yang diyakini menjadi tempat dimakamkannya Mbah Tegal, sosok yang membabat alas Desa Tegalsambi.

Usai berdoa, sesajen kemudian dibawa ke depan panggung oleh perangkat desa. Pj Bupati Jepara, Edy Supriyanta kemudian menyalakan obor pertama yang menjadi pertanda dimulainya Perang Obor.

-Advertisement-

Baca juga: Pusaka Bupati Juwana Dikirab Dalam Sedekah Bumi Desa Gunungwungkal Pati

Para pemain kemudian bersiap dengan obornya masing-masing untuk saling menyerang satu sama lain. Teriakan ribuan penonton yang melihat percikan api dari serangan antar pemain turut memeriahkan susana.

Kepala Desa Tegalsambi, Agus Santoso, menjelaskan, pada Perang Obor kali ini, pihaknya menyiapkan 40 orang dengan 400 obor. Perang Obor merupakan puncak dari rangkaian agenda sedekah bumi di Desa Tegalsambi.

“Sebelum Perang Obor ini kita awali dengan bari’an atau ziarah ke makam leluhur untuk mendoakan yang sudah mbabat alas Desa Tegalsambi sekaligus memberikan edukasi kepada generasi muda bahwa Tegalsambi tidak ujuk-ujuk seperti ini, tetapi dibangun oleh para leluhur,” katanya.

Dalam sejarahnya, Tradisi Perang Obor berawal dari kesalahpahaman antara Kiai Babadan dan Ki Gemblong. Saat itu, Kiai Babadan yang memiliki banyak ternak meminta kepada Ki Gemblong utnuk merawat ternak miliknya. Namun setelah dirawat oleh Ki Gemblong, ternak Kiai Babadan banyak yang sakit, dan Kiai Babadan justru melihat Ki Gemblong sedang memancing di pinggir sungai.

Baca juga: Diyakini Bawa Berkah, Warga Berebut Gunungan Sedekah Bumi Mojosemi Pati

Melihat hal tersebut, Kiai Babadan marah dan bertengkar menggunakan Obor dengan Ki Gemblong. Di saat melihat percikan api, ternak Kiai Babadan lari ketakutan, tapi setelah itu justru menjadi sehat.

“Sehingga beliau (Kiai Babadan dan Ki Gemblong) menghentikan pertikaikannya, berdamai dan berwasiat kepada anak cucunya agar kelak melaksanakan Perang Obor sebagai ritual tolak bala,” jelasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER