Pusaka Bupati Juwana Dikirab Dalam Sedekah Bumi Desa Gunungwungkal Pati

BETANEWS.ID, PATI – Beberapa pusaka berupa keris dan tombak Dikirab dalam acara sedekah bumi Desa Gunungwungkal, Kecamatan Gunungwungkal, Pati. Pusaka-pusaka itu, disebut merupakan pusaka leluhur peninggalan Bupati Juwana.

Kepala Desa Gunungwungkal, Mulyono mengatakan, setiap acara sedekah bumi yang dilangsungkan pada setiap Minggu Legi bulan Apit pada penanggalan Jawa, pusaka milik Bupati Juwana itu dikirab, mulai dari rumah kepala desa hingga lapangan dan kembali lagi ke rumah kepala desa.

Baca Juga: Diyakini Bawa Berkah, Warga Berebut Gunungan Sedekah Bumi Mojosemi Pati

-Advertisement-

Ia menyebut, sebelum pusaka-pusaka itu dikirab keliling desa, terlebih dahulu ada ritual khusus. Hal ini juga sebagai upaya nguri-nguri tradisi leluhur.

“Setiap Minggu Legi pada Bulan Apit, Desa Gunungwungkal mengadakan acara sedekah bumi. Untuk sekarang ini, yang ke-150. Rangkaian acaranya, di antaranya adalah arak-arakan pusala leluhur, yang berasal dari Bupati Juwana, ” ujar Mulyono, Minggu (19/5/2024).

Selain pusaka, ada juga seekor kuda yang turut dikirab dalam acara tersebut. Berbeda dengan kiirab pada umumnya, yang biasanya kudanya dinaiki, namun untuk acara sedekah bumi Desa Gunungwungkal, kuda tersebut hanya dituntun saja.

Masyarakat setempat mempercayai, bahwa yang naik kuda itu adalah arwah leluhur atau danyang dari desa setempat.

Mulyono menyebut, kuda yang ikut dikirab itu, merupakan simbol kekuatan yang menggambarkan sebuah perjalanan hidup.

Bukan hanya itu saja, di teras rumah milik kepala desa juga tampak kepala kerbau. Hal ini, juga menjadi salah satu ritual pada acara sedekah bumi.

“Kalau kepala kerbau ini merupakan simbol dari seorang pemimpin. Jadi kepala kerbau dipotong dan darahnya menetes di bumi, ” ungkapnya.

Ia menyebut, dalam kitab budaya sedekah bumi di desanya, setidaknya masyarakat Desa Gunungwungkal yang terdiri dari enam perdukuhan, semuanya antusias untuk mengikuti.

Baca Juga: Kirab Pengantin Tebu Tandai Masa Giling PG Rendeng, Target Mampu Produksi 20 Ribu Ton Gula

Dari setiap dukuh, membuat satu gunungan yang berisi hasil bumi, yang kemudian ikut dikirab dalam acara tersebut. Gunungan itu, setelah sampai pasar, bisanya akan diperebutkan warga.

“Gunungan ini kan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas rezeki yang telah diberikan. Gunungan ini ya isinya adalah berupa hasil bumi,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER