BETANEWS.ID, KUDUS – Manajer Persiku 2022, Achmad Faisal, buka suara soal dana Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) dari Pemkab Kudus sebesar Rp500 juta yang diminta. Persoalan ini mencuat saat Asosiasi Kabupaten (Askab) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kudus meminta uang itu dikembalikan seiring pemberhentian dirinya, Kamis (28/9/2023).
Faisal mengatakan, uang Rp500 juta yang ditransfer ke kas manajemen Persiku itu untuk pembayaran utang di kompetisi 2022, bukan sebagai modal untuk mengarungi kompetisi Liga 3 Zona Jawa Tengah. Sebab, uang Rp 500 juta itu masuk ke rekening manajemen Persiku 2022, bukan 2023. Pasalnya, selama mengarungi kompetisi Liga 3 Zona Jateng, Persiku masih memiliki utang kepada managemen 2022 kurang lebih Rp1,4 miliar.
“Jadi uang tersebut untuk mencicil utang Persiku. Dengan adanya pembayaran tersebut utang Persiku masih kurang sebesar Rp 900 juta,” jelasnya melalui sambungan telepon, belum lama ini.
Baca juga: Tanggapi Pemecatannya, Faisal: ‘Kapan Diangkat Jadi Manajer Persiku, Kok Diberhentikan’
Faisal juga mempertanyakan klaim sepihak Askab PSSI Kudus bahwa dana Rp500 juta itu untuk modal awal Persiku mengarungi kompetisi Liga 3 Zona Jateng. Padahal, selama ini Askab tak pernah hadir dalam rapat yang berkaitan dengan dana. Menurutnya, Askab juga tidak tahu kronologi aliran uang tersebut.
“Logikanya, kalau uang itu untuk Persiku 2023 kan harusnya ada rekening manajemen Persiku 2023. Sementara uang tersebut masuk ke rekening manajemen Persiku 2022. Karena memang manajemen Persiku 2023 belum terbentuk dan tidak ada pengangkatan,” tegas Faisal.
Faisal mengaku sudah menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Persiku tahun 2022. LPJ tersebut sudah clear serta sudah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan tak ada temuan.
“LPJ sudah kami serahkan dan sudah diperiksa BPK, tak ada temuan,” bebernya.
Sejak dulu, lanjutnya, Persiku tidak pernah ada anggaran di awal kompetisi. Sehingga, untuk biaya operasional, sang manajer lah yang menalangi terlebih dulu, begitu juga dengan dirinya. Sebelum tragedi Kanjuruhan, total anggaran untuk operasional dan kegiatan Persiku kurang lebih sebesar Rp1,8 miliar.
“Saat sudah dibayar Rp1,4 miliar dan masih kurang Rp400 juta. Ketika kasus Kanjuruhan mereda, kompetisi jalan lagi. Karena masih ada utang Rp400 juta, saya pun konsultasi ke BPPKAD dan nggak ada anggaran. Jadi saya harus nalangi lagi,” ungkapnya.
Baca juga: Ada Wacana Persiku Dikelola Perusahaan Swasta, SMM: ‘Setuju’
Kemudian, kata Faisal, kompetisi bergulir lagi dan Persiku berjuang untuk masuk 16 besar Liga 3 Nasional. Namun, langkah Persiku akhirnya terhenti, dengan menelan biaya operasional, gaji pemain dan lainnya sebesar Rp1 miliar.
“Ditambah dengan utang sebelumnya sebesar Rp400 juta, jadi total utang Persiku sebesar Rp1,4 miliar. Jadi yang ditransfer Rp500 juta itu peruntukannya adalah pembayaran utang dan saat ini Persiku masih utang ke managemen 2022 kurang lebih sebesar Rp900 juta,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

