Banyak Wisatawan Datang ke Kudus Tak Belanja Oleh-oleh, Ini Kata Dewan

BETANEWS.ID, KUDUS – Anggota Komisi B DPRD Kudus Sayid Yunanta meminta ada penataan produk di sekitar tempat wisata di Kudus. Upaya ini harus dilakukan, agar ada transaksi pembelian produk dari wisatawan yang berkunjung ke Kudus. Usulan ini dinyatakan menyikapi minimnya wisatawan yang berbelanja oleh-oleh di tempat wisata religi.

“Sekarang begini, belanja atau tidak kan tergantung dengan kebutuhan mereka. Konsumen butuh atau tidak, ada ketersediaan dana atau tidak, menarik untuk dibeli sesuai kebutuhan atau tidak. Kalau tidak maka pembeli tidak mau belanja,” ujar Sayid saat ditemui di kediamannya di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, Rabu (3/5/2023).

Baca juga: Makam Sunan Kudus Ramai Peziarah, Tapi Pedagang Oleh-oleh Sepi Pembeli

-Advertisement-

Untuk menarik minat konsumen, lanjut Sayid, pihak terkait bisa mengemas paket wisata religi yang ada. Tujuannya, agar wisatawan atau peziarah yang datang tidak hanya berziarah saja lalu pulang, tapi juga membeli oleh-oleh khas Kudus.

“Ini memang harus dipikirkan. Bagaimana bisa mengambil manfaat dari banyaknya peziarah yang datang, agar mereka membelanjakan uangnya di Kudus,” bebernya.

Dia mengungkapkan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus berencana akan mengoptimalkan kawasan wisata yang daerah atas (Colo). Agar setelah wisatawan berziarah bisa mampir untuk berekreasi atau hal lainnya.

“Sebenarnya hal tersebut merupakan tanggung jawab lintas sektor. Sekaligus, perlu dipikirkan dan disiapkan di berbagai OPD (Organisasi Perangkat Daerah), tidak hanya Disbudpar saja,” tandasnya.

Baca juga: 4 Desa Wisata di Kudus akan Dijadikan Pilot Projek Pengembangan Potensi Wisata

Selain itu, penjual juga harus diberi edukasi, kreativitas, dan pembinaan dalam melakukan penjualan. Sehingga tidak terjadi kesamaan dan mempunyai unggulan di masing-masing produk yang dijual.

“Sekarang bagaimana bisa menarik peziarah atau wisatawan untuk membeli, sementara yang dijual pedagang satu dan lainnya itu produknya sama. Misal jenang yang jual kan banyak, ketika wisatawan susah beli di toko satu, otomatis tidak beli di toko lain. Nanti bilangnya tidak ada yang beli. Jadi harus ada penataan dan grand design yang jelas,” jelasnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER