31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Sejarah Tari Bedhaya Anglir Mendung yang Tampil Saat Peringatan Kenaikan Tahta Mangkunegara

BETANEWS.ID, SOLO – Tembang yang dilantunkan sinden yang berpadu dengan bunyi gamelan terdengar merdu di acara Tingalan Jumenengan pertama KGPAA Mangkunegara X di Pura Mangkunegaran, Rabu (2/3/2023). Tembang demi tembang dinyanyikan hingga akhirnya tujuh orang penari kemudian muncul dari Dalem Ageng dan berjalan dengan anggun menuju Pendapa Ageng. Mereka mengenakan pakaian dodot yang berwarna hijau, sambil membawa panah.

Para penari didampingi oleh empat orang wanita dengan pakaian hitam dan memakai samir Mangkunegaran. Mereka membawa bokor berisi kemenyan yang mengepul tipis, yang memberikan nuansa magis.

Tari Bedhaya Anglir Mendung-pun dimulai. Dari kain yang menjuntai di busana penari, ketika dikibaskan akan keluar taburan bunga yang membuat area pendapa seketika harum.

-Advertisement-

Baca juga: Rangkaian Prosesi Tingalan Jumenengan Pertama KGPAA Mangkunegara X

Penari lantas menarikan Bedhaya dengan anggun dan luwes. Gerakan demi gerakan mereka tarikan mengikuti irama gendhing yang dimainkan. Sesekali, mereka menarikan dengan gerakan memanah dengan panah yang sebelumnya dibawa.

Bedhaya Anglir Mendung dimainkan selama 45 menit. Selama berlangsung, Mangkunegara X beserta para tamu lainnya menyimak dengan khidmat seluruh gerakan tarian sakral itu.

Bedhaya Anglir Mendung merupakan tarian sakral yang hanya dimainkan saat upacara Tingalan Jumenengan pemimpin Mangkunegaran. Tarian ini hanya dimainkan di dalam Pura Mangkunegaran, sebab tarian ini ditujukan untuk raja yang sedang bertahta.

Tarian pusaka Mangkunegaran ini diciptakan oleh Mangkunegara 1 atau Raden Mas Said. Kemantren Langenpraja Puro Mangkunegaran GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo menerangkan, tarian ini menceritakan perjuangan RM Said atau Mangkuengara 1 bersama pasukannya melawan musuh.

Baca juga: Gibran Dapat Gelar Kanjeng Pangeran Haryo dari Pura Mangkunegaran

“Tarian ini menceritakan tentang perjuangan Raden Mas Said bersama pasukannya melawan musuh, seperti mendung,” jelas Gusti Sura.

Sama seperti Bedhaya Ketawang di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, penari Bedhaya Anglir Mendung juga memiliki persyaratan yang harus ditaati, seperti harus masih gadis atau belum menikah, tidak sedang dalam masa haid, serta harus menjalani ritual puasa.

Tarian Bedhaya Anglir Mendung diiringi alunan gamelan sakral bernama Kyai Kenyut Mesem yang merupakan peninggalan Kerajaan Demak. Biasanya, gamelan Kyai Kenyut Mesem dimainkan untuk mengiringi upacara kenaikan tahta dan tari-tarian sakral lainnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER