BETANEWS.ID, MAGELANG – Upaya lebih meningkatkan produksi batik magelangan, kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Magelang meminta ada kebijakan pemerintah. Hal itu tidak lepas dari fenomena perbatikan di kabupaten ini yang relatif tertinggal dibandingkan wilayah lain.
Salah satu tolak ukurnya, kurangnya antusias warga masyarakat untuk mengenakan batik khas Magelang itu sendiri, terutama di lingkungan Pemkab Magelang.

Baca juga: Dari Relief Candi Hingga Merapi, Griya Saniya Sudah Ciptakan Ratusan Motif Batik Khas Magelang
Pemilik Griya Saniya Hayatini Siswi Ningrum berharap, Pemerintah Kabupaten Magelang bisa memprakarsai para ASN untuk menggunakan batik asli Magelang. Apalagi di hari-hari tertentu, para ASN menggunakan seragam batik.
“Batik ini Alhamdullilah sudah buat oleh-oleh, tapi belum maksimal, karena ASN di Kabupaten Magelang terus terang belum memakai batik asli dari Magelang itu sendiri,” jelasnya.
Saat ini, pihaknya sedang mengupayakan kepada pemerintah daerah supaya ke depan ASN memakai batik asli Magelang. Selain dipakai untuk ASN juga sebagai oleh-oleh yang khas.
“Magelang memiliki wisata super prioritas yaitu Borobudur. Tentunya banyak sekali turis-turis dan juga wisatawan yang berkunjung ke sana. Mudah-mudahan nantinya ada filosofi belum ke Borobudur, kalau belum beli batik Borobudur,” harap Hayatini Siswi Ningrum.
Baca juga: Pemerintah Dorong Pelaku UMKM di Magelang Siap Beradaptasi di Era Digitaisasi Ini
Batik-batik yang diciptakan oleh Griya Saniya sendiri tergolong sangat terjangkau. Untuk kain batik yang diciptakan pun sangat memiliki kualitas yang cukup bagus. Pengalaman yang sudah bertahun-tahun membuat kualitas bisa bersaing dengan batik-batik dari daerah lainnya.
“Untuk harga kalau batik cap itu mulai dari Rp 150 ribu ke atas, terus kalau batik tulis mulai dari Rp 250 ribu ke atas,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

