KNTI Minta Ada SPBN di Tambakrejo, Mustakim: ‘Selama Ini Nelayan Sulit Dapatkan Solar’

BETANEWS.ID, SEMARANG – Organisasi Kesatuan Nelayan Tradisional Indoensia (KNTI) mengadakan kegiatan Rembuk Nelayan untuk membahas perihal Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang selama ini belum ada di Semarang. Padahal, SPBN dinilai sangat penting untuk nelayan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Kampung Nelayan Huntara, Tambakrejo, Tanjungmas, Semarang Utara itu, diikuti oleh perwakilan nelayan dari kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Di antaranya dari Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara dan Rembang. Beberapa dinas terkait juga terlibat, yakni Dinas Perikanan Kota Semarang, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pekalongan, dan masih banyak lagi.

Kabid Sosial KNTI Semarang Mustakin. Foto: Kartika Wulandari.

Baca juga: Puluhan Nelayan Peringati Hari Nelayan di Semarang

-Advertisement-

Kabid Sosial KNTI Semarang Mustakin mengatakan, dalam rembuk nelayan kali ini, yakni membahas terkait BBM subsidi yang tepat sasaran dan ajuan pembangunan SPBN di Semarang.

“Yang kita fokuskan tentang BBM subsidi yang tepat sasaran dan SPBN. Karena di Semarang, khususnya di Tambaklorok itu kan ada perkampungan nelayan, jadi kita semua sangat butuh itu. Bayangkan kalau di perkampungan nelayan tapi tidak ada SPBN, apa pemerintah tidak memikirkan darimana solar itu didapat,” katanya, Rabu (7/9/2022).

Pihaknya pun mengaku, selama ini para nelayan cukup sulit untuk mendapatkan solar. Karena untuk mendapatkan solar, nelayan sering sembunyi-sembunyi membeli menggunakan jeriken atau kencing kapal. Karena untuk membeli solar secara legal, pihaknya harus mendapat surat rekomendasi dari Dinas Perikanan yang sulit sekali proses memperolehnya.

“Harus punya PAS, Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA), terus di Dinas Perikanan, kemudian Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Setelah itu harus muter ke polisi, Yaitu dari Polres, Polsek, sampai Polda. Bahkan Polda juga bingung loh, ini kan bukan tugas nelayan,” jelasnya.

Kemudian mengenai kenaikan BBM yang kini terjadi, pihaknya mengaku sebagai nelayan pastinya terdampak, karena BBM naik otomatis biaya untuk melaut pun bertambah.

“BBM naik pastinya nelayan berdampak, meski naiknya sedikit, tapi kan kalau dikalikan jadi banyak. Kita sehari itu butuh 40 sampai 60 liter, dikalikan saja itu sudah nambah berapa jadinya. Kalau gitu akhirnya pengeluaran untuk melaut otomatis juga bertambah 30-40 persen. Karena saat melaut biaya paling banyak itu bahan bakarnya,” ujarnya.

Baca juga:Puluhan Nelayan Semarang Ikut Parade Perahu, Tuntut Pemerataan Subsidi BBM

Kendati demikian, meski biaya melaut bertambah, para nelayan tidak berani menaikkan harga ikan hasil tangkapannya, karena takut nanti sepi.

“Meskipun naik, harga ikan tetap, tidak berani dinaikkan, takutnya malah sepi tidak laku, modal melaut malah tidak balik. Karena kalau mahal pasti tidak ada yang beli,” tutupnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER