31 C
Kudus
Minggu, Januari 23, 2022
spot_img
BerandaKUDUSSururi, Kiai Mangrove...

Sururi, Kiai Mangrove Asal Semarang yang Sudah Tanam Jutaan Mangrove

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sururi (63) Warga Mangunharjo, Kota Semarang siang itu sedang menerima tamu dari Universitas Diponegoro (UNDIP). Sekitar 15 mahasiswa memberikan pertanyaan soal permasalahan pesisir kepadanya.

Sururi atau yang akrab dipanggil Kiai Mangrove itu bukanlah lulusan sarjana pertanian atau semacamnya. Dia hanyalah petambak ikan yang hidup sederhana di sudut Kota Semarang itu.

Bencana rob tiba-tiba mengubah hidupnya. Daerahnya yang berada di pesisir pantai Semarang itu sering terjadi rob. Dia resah dengan hal itu, karena air rob mengancam keluarga dan mata pencahariannya.

Sururi, Petani Mangrove. Foto: Dafi Yusuf.
- Ads Banner -

Baca juga : Ganjar Ikut Tanam Mangrove di Desa yang Terancam Tenggelam di Demak

Dari keresahan itulah, dia akhirnya belajar menjadi petani mangrove. Awalnya, dia belajar secara otodidak. Hingga akhirnya dia dipertemukan dengan salah satu akademisi asal Semarang.

“Saat itu saya mulai diajari untuk menanam mangrove yang benar sejak tahun 1997,” jelasnya saat ditemui di lokasi penanaman mangrove dekat rumahnya, Sabtu (4/12/2021).

Dia merasakan rob mulai semakin parah tahun 1995. Menurutnya, terdapat kebijakan pemerintah yang salah pada waktu itu, sehingga mengakibatkan rob.

“Tahun 1997 itu pemerintah masih slow respon. Saya sampai bingung mau mengadu kepada siapa,” katanya terheran-heran.

Perjuangan Sururi menanam mangrove tak sia-sia. Tahun 2004-2005 masyarakat mulai merasakan manfaatnya. Berberapa kali komunitas sadar lingkungan terbentuk di Mangunharjo, namun umurnya tak cukup lama.

“Karena persoalan uang, menggerakkan warga kan butuh uang. Sementara saya tak punya modal untuk itu. Akhirnya bubar,” ucapnya.

Meski begitu, dia pantang menyerah. Dia mengajak saudara terdekatnya untuk ikut aktif menjadi petani mangrove. Menurutnya, menanam mangrove merupakan sebagian dari perilaku yang dianjurkan oleh agama.

“Kalau saya bilang itu sudah sunah rasul,” ucapnya.

Kurun waktu tahun 1990-2000, abrasi kawasan Mangunharjo menyebabkan terkikisnya pesisir hingga mengancam permukiman warga.

Kala itu, jarak antara permukiman hingga bibir pantai tinggal sekitar 500 meter. Padahal sebelumnya 1,6 kilometer. Selepas gencar melakukan penanaman, kini jarak permukiman dengan pesisir kembali terentang jauh sekitar 1,4 kilometer.

Tak heran atas kiprahnya tersebut, dia mendapat berbagai julukan. Mulai dari Profesor Mangrove dan Kiai Bakau. Meski demikian, dia enggan dipanggil dengan sebutan Kiai Mangrove.

Baca juga : Kunjungi Desa Pesanggrahan Cilacap, Ganjar Ajak Warga Tanam Ribuan Pohon

“Ya saya tak tau ya asal sebutan itu, mungkin setiap menanam mangrove orang-orang tak ajak berdoa,” paparnya.

Jika dia hitung, saat ini dia sudah menanam jutaan mangrove. Karena usianya sudah tak muda, dia mengajari anaknya untuk kelak bisa memperjuangkan mangrove yang telah dia tanam.

“Anak saya yang laki-laki sekarang baru saya ajarin,” katanya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 12 - Banjir Abadi di Wilayah Bekas Selat Muria (Kudus dan Pati)

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,340PengikutMengikuti
75,048PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler