Studio Seni Foto Gerak Cepat, Studio Foto Legendaris di Semarang

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bangunan bersejarah masih banyak ditemui di Kota Semarang, salah satunya adalah Studio Seni Foto Gerak Cepat yang berada di Kampung Melayu, Kawasan Kota Lama, Kota Semarang.

Studio Seni Foto Gerak Cepat bisa ditemui di Jalan Layur Nomor 121. Di tempat tersebut, terdapat bangunan tua dua lantai yang legendaris. Sampai saat ini, bangunan tersebut masih dihuni keturunan ke-7 dari Ali Machroos, yaitu Nurul Hidayah bersama suami dan anaknya.

“Di sini saya tempati sama keluarga,” jelas Nurul saat ditemui di lokasi, Kamis (27/5/2021).

-Advertisement-

Baca juga : Albert Home Studio Foto, Siapkan Konsep Kekinian untuk Manjakan Konsumen

Dia mengatakan, jika dihitung, bangunan yang dia tempati saat ini sudah berumur 200 tahun. Sampai saat ini belum ada perubahan bentuk di bangunan tersebut. Bahkan, kerangka kayu dan jendela dengan pola bunga juga masih asli.

“Hanya saja, di sini sering terjadi rob, jadi tanahnya harus diurug, supaya airnya tak naik,” ujarnya.

Seingatnya, dia mulai menempati bangunan tersebut sejak 1970-an ketika dia masih TK. Sampai saat ini dia sudah tinggal di gedung tersebut lebih dari 50 tahun.

“Semuanya ini terbuat dari kayu jati, kini pilar-pilar hanya tersisa 3 sampai 4 pilar,” ucapnya.

Beberapa tembok di sudut ruangan tersebut juga mulai runtuh. Kayu dan papan jati yang berada di lantai dua juga sudah termakan usia karena mulai tua. Meski demikian, dia terpaksa menggunakan tempat tersebut sebagai ruangan tempat tidur.

“Bahkan beberapa tumbuhan juga mulai tumbuh di sela-sela tembok,” katanya.

Bangunan tersebut, juga resmi sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan keputusan Wali Kota Semarang Nomor 646/50/Tahun 1992.

“Untuk itulah bangunan tersebut tak bisa diubah, kita hanya meninggikan lantainya karena berulang kali kena rob,” imbuhnya.

Nama studio Seni Foto Gerak Cepat sendiri dibuat karena, pada saat itu di beberapa studio lain yang ada, setiap konsumen yang menginginkan cetakan foto untuk kepentingan pembuatan KTP harus menunggu selama satu minggu.

“Namun di tempat kami, hanya butuh butuh waktu satu jam saja. Ketepatan waktu, kualitas hasil cetakan menjadi prinsip kami membuka usaha ini,” ujarnya.

Baca juga : Tak Diizinkan Sekolah Fotografi, Albert Pernah Kabur dari Rumah

Ditengah persaingan kecanggihan teknologi studio foto modern, Nurul pun mengaku tak ingin kehilangan gerak cepatnya. Dia tetap mengandalkan kamera manual peninggalan ayahnya untuk memuaskan konsumennya. Namun akhirnya dia menyerah.

Dia menyerah karena tempat bangunan tersebut menjadi langganan rob. Tak terhitung barang-barang yang rusak. Hal itu membuatnya berfikir ulang hingga singkat cerita dia memutuskan untuk menutup studio tersebut.

“Ya harus ditutup namun barang untuk studio masih saya simpan di lantai atas,” katanya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER