PKB Munculkan Tiga Gus Dalam Bursa Calon Wakil Bupati Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS –HM Hartopo telah resmi menjabat sebagai Bupati Kudus di sisa masa jabatan 2018-2023, setelah dilantik Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pekan lalu. Hartopo sebelumnya sempat mengemban tugas sebagai pelaksana tugas sekitar satu setengah tahun, usai M Tamzil terjerat kasus suap dan harus mendekam dipenjara.

Hartopo, pada Pilkada 2018 lalu maju bersama M Tamzil dan terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kudus. Pasangan ini diusung oleh tiga partai, yakni Hanura, PPP dan PKB. Usai dilantik, M Tamzil yang menjabat sebagai bupati hanya menjabat dalam waktu yang cukup sebentar, karena tersandung kasus suap. Posisinya kemudian diisi oleh wakilnya, yaitu Hartopo sebagai Plt, hingga akhirnya dilantik sebagai bupati definitif.

Menyusul telah dilantiknya Hartopo sebagai Bupati Kudus, kini partai pengusung mulai menyiapkan nama yang diusulkan sebagai calon wakil bupati.

-Advertisement-

Baca juga : Ditanya Soal Pengisian Wakil Bupati Kudus, Mukhasiron Masih Malu-Malu

PKB misalnya, partai ini langsung bergerak cepat. Selepas mengadakan rapat pleno, diketahui ada sepuluh nama yang diusulkan ke DPW Jateng dan DPP untuk diseleksi sebagai cabup.

Dari sepuluh nama tersbeut, yaitu Ketua DPC PKB Kudus Mukhasiron, Wakil Ketua DPRD Kudus Ilwani, Anggota DPRD Kudus Siti Rohmah, Noor Hadi dan Sunarto.

Kemudian ada Ketua Dewan Syuro KH Muhammad Jazuli, Wakil Ketua Dewan Syuro Wiyono, Wakil Ketua DPC PKB Kudus Ali Ihsan, Gus Chirzil A’la, dan terakhir ada Khifni Nasif.

Menariknya, dari sepuluh nama tersebut ada tiga ‘Gus’ yang ikut diusung untuk mendapatkan rekomendasi sebagai cawabup.

Ditemui di kediamannya, Wakil Ketua Dewan Syuro Wiyono mengungkapkan, adanya Gus dalam politik ini membuat kepentingan nasional menarik untuk dicermati.

Pihaknya juga mengklaim, bahwa seorang Gus selalu memiliki jiwa populis, demokratis, egaliter. Dan hal-hal ini yang diinginkan masyarakat untuk bisa menjadi seorang pemimpin.

“Kalau bicara pesantren, santri pasti berkontribusi di situ. Bagaimana masyarakat publik memandang Gus. Seseorang yang berjiwa populis, demokratis, egaliter, ini yang sangat penting. Transparansi ini ada dalan jiwa Gus, populis dan egaliter menjadi budaya dari diri Gus sendiri, ” jelas Wiyono, Jumat (16/4/2021).

Sehingga, lanjut Wiyono, bicara soal Kudus sebagai Kota Santri akan menarik sekali. DPP tidak akan memandang Kudus sebelah mata. Apalagi ditambah dengan kemampuan setiap Gus yang menarik untuk diperbincangkan.

Wiyono merincikan, Gus Khifni Nasif atau akrab disapa Gus Khifni ini memiliki latar belakang sebagai pengasuh pondok pesantren dan seorang Magister Ekonomi yang mampu membangkitkan ghirah religius sekaligus perekonomian warga Kudus.

Belakangan ini diketahui, Gus Khifni telah bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar. Memberdayakan para petani kacang tanah sebagai suplier di perusahaan tersebut, Gus Khifni berusaha membantu perekonomian warga.

“Di sini Gus dalam pemberdayaan masyarakat sangat lekat, tidak bisa dipisahkan, ” kata Wiyono.

Kemudian, membahas tentang KH Muhammad Jazuli atau biasa disapa Gus Jazuli juga miliki peranan penting dalam dunia pesantren di Kudus. Sebagai salah satu putra dari KH Ahmad Basyir, Gus Jazuli telah memiliki ribuan santri. Ditambah, sekarang pihaknya mulai merambah dunia transportasi, bekerja sama dengan salah satu perusahaan otobus di Kudus.

“Penguatan ekonomi sudah mulai mereka tunjukkan. Kemudian, Gus Khirzil A’la sebagai perwakilan dari kelompok Menara yang merupakan pusatnya santri di Kudus. Sehingga berbicara soal Kudus sebagai Kota Santri, akan menarik sekali, ” jelas Wiyono.

Baca juga : Mukhasiron Pasang Target PKB Menangi Pileg 2024 di Kudus

Keyakinan Wiyono mengusung Gus menjadi calon wakil bupati, ini juga didasarkan adanya fenomena Gus menjadi pemimpin daerah. Salah satunya Gus Yasin yang menajadi Wakil Gubernur Jateng.

“Kalau fenomena ini mampu membuat Gus menjadi K2 atau Wakil Bupati Kudus, apa yang diinginkan masyarakat tidak akan datar saja. Bagaimana Gus dijadikan tolak ukur perubahan kepemimpinan di Kudus harus diperhatikan. Karena dengan kepemimpinan Gus, bisa meminimalisir transaksional yang biasa membuat banyak pihak korupsi. Salah satunya dengan menempatkan Gus jadi Wakil Bupati Kudus, ” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER