BETANEWS.ID, KUDUS – Terapi plasma darah konvalesen kini tengah menjadi perbincangan sebagai cara untuk membantu pasien yang sedang berjuang melawan Covid-19. Menurut Kepala Unit Donor Darah PMI Kudus Arief Adi Saputro, plasma darah berfungsi membantu melawan infeksi. Antibodi yang terkandung pada plasma darah berperan dalam sistem kekebalan tubuh.
“Kehadirannya mampu membantu tubuh melawan infeksi yang disebabkan bakteri dan virus. Donor plasma konvalesen adalah metode pengambilan darah plasma dari penyintas Covid-19 yang dapat diberikan sebagai terapi untuk pasien Covid-19 yang sedang dirawat,” terangnya, Selasa (9/2/2021).
Afief begitu dia akrab disapa menambahkan, antibodi orang yang terpapar Covid-19 dan mendapat perawatan hingga sembuh lebih tinggi daripada Orang Tanpa Gejala (OTG). Menurutnya, antibodi OTG masih kurang kuat jika diberikan kepada pasien yang sedang dalam perawatan Rumah Sakit.
Baca juga: Kudus Berencana Datangkan Alat Donor Plasma untuk Pasien Covid-19
“Jika ada pasien yang sembuh dari Covid-19 dengan kondisi yang parah, itu lebih tinggi antibodinya jika dibanding OTG. Dan plasma konvalesen ini sudah ada sejak tahun 1990an, untuk penyembuhan virus SARS dan ebola,” ungkapnya.
Saat ini, katanya, alat untuk donor plasma darah di Kudus masih belum tersedia. Pihaknya akan siap membantu proses donor plasma jika nantinya pemerintah daerah mengadakan alat tersebut.
“Karena alat yang digunakan berbeda dengan donor darah biasa, untuk donor plasma menggunakan alat Aferesis. Prosesnya juga lebih lama, sekitar 40 menit hingga satu jam. Dan hanya mengambil plasma darahnya saja,” katanya.
Baca juga: 871 Orang di Jateng Donorkan Plasma Konvalesen
Arief menambahkan, plasma darah bisa bertahan lebih dari satu tahun jika dibekukan dan ditaruh freezer. Jika tidak dibekukan hanya tahan selama lima hari saja.
“Kalau dibekukan bisa bertahan lama hingga setahun lebih. Donor plasma juga sebaiknya dengan golongan darah yang sama,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

