BETANEWS.ID, KUDUS – Ada yang istimewa dalam peringatan Hari Santri 2020 di Kabupaten Kudus kali ini. KH Bahaudin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha datang mengisi pengajian dalam peringatan Hari Santri di Pendapa Kabupaten Kudus. Padahal, santri KH Maimun Zubair tersebut dikenal sulit untuk diundang pengajian oleh pemerintah.
Saat mengawali pengajian, Gus Baha mengatakan, sebenarnya pengajian yang digelar pada Sabtu (31/10/2020) malam tersebut ialah pengajian rutin yang diampunya di Kudus. Pada waktu-waktu sebelumnya, pengajian digelar rutin selapan sekali di Madinatul Ilmi, kediaman Habib Bidin.
“Sebenarnya ini pengajian rutin di Habib Bidin yang dipindah ke kabupaten. Ya saya mau saja agar Umaro dan Habib terlihat rukun,” ujar Gus Baha yang disambut tawa para tamu undangan.
Dalam pembukaannya sebelum meneruskan kajian kitab Minhajut Tholibin, Gus Baha menyinggung sedikit sejarah tentang perjuangan para kiai dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan. Menurut kiai yang pernah mondok di Kudus tersebut, kiai memiliki peran sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan, karena memiliki otoritas dalam mempengaruhi gerakan masyarakat.
Baca juga: Jaga Santri Kudus, Hartopo Minta Puskesmas Monitor Pesantren Setiap Hari
“Jangan pernah berpikir negara ini didirikan hanya oleh umaro.
sebelum negara ini berdiri, para kiai membentuk komunitas. Para kiai inilah yang bisa menggerakkan masyarkat untuk melawan Belanda. Para kiailah yang memiliki otoritas untuk menggerakkan masyarakat,” ujar Gus Baha.
Dalam pengajian yang dihadiri Plt Bupati Kudus Hartopo, dan sejumlah jajaran Forkopimda tersebut, Gus Baha juga menyatakan, para kiai menggunakan kebenaran ilmu untuk mempengaruhi masyakarat. Dengan ilmu tersebut, masyarakat disadarkan betapa pentingnya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.
“Orang-orang dulu itu aneh, menyebut Belanda saja menggunakan kata ndoro. Masak menyuruh mereka untuk melawan ndoro-nya. Tapi para kiai menggunakan kebenaran ilmu, bahwa orang Belanda itu memiliki kepandaian, memiliki kekuatan, orang kuat pasti menindas yang lemah, yakni masyarakat di Indonesia. Sehingga masyarakat harus melawan penindasan itu,” ujar Gus Baha.
Baca juga: Peringatan Hari Santri di Jateng Digelar Virtual, Ini Lomba yang Bisa Diikuti Santri
Sementara itu, dalam sambutanya Hartopo mengapresiasi peran para santri yang telah berperan cukup besar di masyarakat dan berjuang dalam menjaga kedaulatan NKRI.
“Saya mengapresiasi peranan ulama dan santri, Ulama dan santri sangat luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan serta memperjuangkan ideologi Pancasila,” ungkapnya.
Hartopo juga menjelaskan, apresiasi kepada para santri dan ulama juga ditunjukkan oleh Pemkab Kudus dengan cara mengenangnya setiap bulan sekali.
“Ulama dan santri selalu kita kenang, penghargaan luar biasa dari Pemerintah Daerah untuk ulama dan santri tercermin setiap bulan sekali lewat busana yang kita pakai, busana khas para santri Kudus. Inilah upaya Pemda mengenang dengan selalu memperingati hari santri tiap bulanya,” jelasnya.
Editor: Suwoko

