BETANEWS.ID, KUDUS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus hingga saat ini belum dimintai droping air oleh masyarakat. Walaupun sudah masuk musim kemarau, beberapa daerah yang biasanya kesulitan air terpantau masih aman.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus Budi Waluyo menuturkan, biasanya kemarau panjang dimulai bulan Agustus dan puncaknya di bulan Oktober. Namun hingga saat ini, pihaknya masih belum mendapatkan permintaan air seperti tahun 2019 lalu.
“Belum ada permintaan droping air. Berarti masih aman,” tuturnya, Rabu (2/9/2020).
Baca juga : BPBD Jateng Waspadai Kebakaran Gunung dan Hutan saat Musim Kemarau
Di Kudus, kata Budi, terdapat tiga kecamatan yang biasanya mengalami kekeringan paling parah. Yakni Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Undaan dan Kecamatan Jekulo. Namun, pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan jika bencana kemarau benar-benar terjadi.
“Kami sudah melakukan pemetaan desa-desa di Kecamatan Kaliwungu, Undaan dan Jekulo. Misal terjadi kami sudah siap,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga sudah menyiapkan tandon air berkapasitas 2.000 liter untuk droping air nantinya. Menurutnya, saat ini yang tersedia sekitar delapan tandon air. Nantinya jika kurang, pihaknya akan melakukan pengadaan barang lagi.
“Untuk kemarau tahun 2019 lalu, hampir keseluruhan kecamatan terkena imbas. Ini datanya,” tuturnya sambil memberikan data rekapitulasi droping air bersih tahun 2019.
Budi menjelaskan, bencana kekeringan tahun 2019 hanya tiga dari sembilan kecamatan yang tidak terkena imbasnya. Yakni kecamatan Kota, Jati dan Bae. Menurutnya, tahun 2019, BPBD melakukan droping air bersih sejumlah 4,8 juta liter air.
Baca juga : PLN UP3 Kudus Salurkan Bantuan ke BPBD
Sedangkan masyarakat yang terdampak yakni sejumlah 17.085 jiwa di 5.036 kepala keluarga. “Yang paling banyak memang di Undaan, 10 desa,” tuturnya.
Dirinya berharap, tahun ini bencana kekeringan tidak terjadi. Namun pihaknya saat menghawatirkan bencana kebakaran yang akhir-akhir ini terjadi di Kudus. Dia meminta agar masyarakat selalu waspada terkait potensi yang menyebabkan adanya kebakaran.
“Saya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membakar sembarangan. Terutama membakar ladang tebu. Karena saat ini sangat rawan sekali,” tuturnya.
Editor : Kholistiono

