Mahasiswi UMK Ini Bangga, Idenya Bisa Diakui di Level Internasional

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah mahasiswa mengenakan jas almamater UMK berfoto bersama narasumber di Hotel Griptha, Jalan R. Agil Kusumadya, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Mereka usai mengikuti sebuah sesi dalam kegiatan The 2nd International Conference On Teacing English To Young Learners In Indonesia (Teylin), yang diselenggarakan Progam Studi (Progdi) Bahasa Inggris UMK.

Peserta Teylin berfoto bersama dengan narasumber
Peserta Teylin berfoto bersama dengan narasumber. Foto: Ahmad Rosyidi

Satu diantara mahasiswa tersebut, yakni Herlina Murian Saputri (21). Dia mengaku bangga karena idenya bisa terpilih untuk dibukukan dan diakui di level internasional. Herlina begitu dia akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang gagasan membuat komik berbahasa Inggris, yang diajukan dalam kegiatan tersebut.

“Ide saya ini berawal dari melihat komik-komik yang pada umumnya hanya berisi sekadar hiburan. Oleh karena itu saya ingin membuat komik berbahasa Inggris yang ada nilai edukasi dan ada nilai sejarahnya juga. Selain itu juga saya kemas dengan bahasa yang ringan untuk anak-anak,” ungkap mahasiswa Progdi Bahasa Inggris UMK semester enam itu, saat ditemui usai acara, Rabu (26/4/2017) siang.

-Advertisement-

Selain karena ingin ide-idenya diakui, Herlina juga berharap dengan sertivikat yang didapat nantinya bisa untuk mendaftar beasiswa kuliah di luar Negeri. “Saya ingin kuliah di Australia, semoga saja nanti bisa terwujud. Karena setahu saya, persyaratan untuk dapat beasiswa kuliah keluar negeri harus memiliki karya yang sudah diakui di level Internasional,” jelas anak terakhir dari dua bersaudara itu.

Untuk mengirimkan karyanya Herlina seharusnya membayar Rp 750 ribu, tetapi biaya tersebut ditanggung oleh Progdi Bahasa Inggris UMK. Dia juga menjadi satu-satunya mahasiswa yang masih S1 dari 23 peserta yang karyanya lolos dan menjadi presenter pada acara tersebut.

Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 25 April 2017 higga 26 April 2017 tersebut, menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai Negara. Diantaranya dari British Council, National Institute Of Education Singapore, dan Malaysian English Teacher Association.

Diah Kurniati (42), Kepala Program Studi Bahasa Inggris UMK, menambahkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menyuarakan tentang pentingnya pendidikan Bahasa Inggris sejak dini. Menurutnya, Bahasa Inggris sangat penting untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Tetapi di Indonesia, pendidikan Bahasa Inggris khususnya untuk anak-anak, dinilai masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

“Jika kita tidak bisa berbahasa Inggris maka kita tidak dapat berkompetisi, dan hanya menjadi buruh. Meski kita punya kemampuan, tetapi kita tidak bisa berbahasa Inggris, tentu kita akan menjadi bawahan jika bekerja di sebuah perusahaan asing. Kalau punya usaha juga tidak bisa menembus pasar internasional,” terang Diah begitu dia akrab disapa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER