SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Seorang pria berambut ikal tampak sibuk memberikan pakan lele di kolam terpal miliknya, di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus. Terhitung ada sekitar 42 kolam terpal di antara rimbunnya pohon bambu. Tampak ribuan ikan lele berebut makanan yang dilemparnya. Pria itu bernama Heri Mulyono (31), yang mengaku telah mengalami pahit getirnya budi daya ikan lele.

Di sela aktivitasnya itu, pria yang akrab disapa Heri itu sudi berbagi pengalaman kepada Seputarkudus tentang pengalamannya merintis usaha budi daya lele. Dia mengungkapkan, setelah usaha budi daya lele mengalami keberhasilan di periode pertama dan kedua, dirinya bertekad menambah 42 kolam. Namun setelah kolam ikannya makin banyak, dia mengaku usahanya mengalami kegagalan.
Baca juga: Wow, Warga Pedawang Ini Punya 42 Kolam Lele, Sebulan Bisa Raup Omzet Rp 100 Juta
“Gagalnya itu karena aku lalai. Dulu biasanya maksimal 10 hari sekali aku pulang untuk mengontrol lele yang aku percayakan pada orang lain. Sejak bertambahnya kolam ikan, pulangku justru dua tiga pekan sekali. Para pekerjaku juga kurang kontrol, hingga ratusan ribu bibit lele gagal panen, dan aku rugi Rp 165 juta,” ungkapnya Heri yang saat itu bekerja di Jakarta sebagai pengawas proyek.
Warga Desa Pedawang, Bae, Kudus itu mengatakan, setelah gagal panen dan rugi, Heri memutuskan cuti kerja dari pekerjaannya di Jakarta. Dia berambisi secepatnya mampu menutup kerugian dari hasil usaha yang sama.
Setelah cuti, dia mengaku membangun kemitraan dengan beberapa peternak ikan lele Kudus, Demak, Jepara, Purwodadi. Dia juga menugaskan orang di beberapa pasar di empat daerah agar hasil panen ikan lele bisa langsung terserap para pedagang pasar. Menurutnya, dengan membangun kemitraan, saat panen nantinya bisa melimpah ruah, ikan lelenya juga langsung terserap ke pasar.
“Namun harapan tinggal harapan. Saat panen memang benar hasil budi daya lele melimpah, namun serapan ke pasar minim. Hingga mengakibatkan harga ikan lele jatuh, yang tadinya harganya Rp 16 ribu turun jadi Rp 11 ribu per kilogram. Semuanya rugi tapi paling banyak aku, karena aku yang memberi modal pakan ke semua peternak ikan. Kerugianku saat itu Rp 360 juta. Ditotal semua dari modal awal kerugian bisa sampai Rp 1,2 miliar,” ungkapnya.
Pria yang dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, uang sebanyak itu termasuk mobil dan tanah hasil kerjanya di Jakarta yang dijual. Setelah rugi besar pada tahun 2016, dia mengaku bertekad menyetabilkan keadaan dan keluar dari tempat kerjanya di Jakarta. Menurutnya, untuk mulai budi daya lagi dirinya meminjam uang ke bank sebesar Rp 240 juta.
Menurutnya, budi daya kali ini dirinya tangani sendiri beserta istrinya. Semua pekerja diberhentikan. Dia fokus di budi daya ikan lele, sedangkan istrinya sebagai pemasaran di Pasar Bitingan, Kudus. Dia juga tidak mau mengambil risiko, biasanya satu kolam diisi 5000 ekor bibit lele, kali ini diisi separuhnya.
“Aku bersyukur sejak tujuh bulan yang lalu keuanganku mulai stabil. Meski serapan pasar tak sebesar dulu namun hasilnya makin kelihatan. Sekarang setiap hari aku mampu mendistribusikan ikan lele ke pasar sebanyak 500 kilogram sehari dan aku mampu meraup omzet Rp 75 juta sebulan. Alhamdulillah hasilnya cukup untuk mengangsur hutang dan mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Heri.

