Novel Sang Tandak

Keterangan Produk:

Judul Buku : Sang Tandak
Pengarang : Yit Prayitno
Penerbit : PT. Beta Media Anugrah
Ukuran : 14cm x 20cm
Tebal : 512 halaman
Ketersediaan : Belum tersedia (proses pengajuan ISBN)

Sinopsis

Adjeng Taroe Resmi adalah bunga yang berangkat merekah. Pe-nandak yang semakin kuat mewangi, ketika belum genap 16 tahun umurnya. Keharumannya tak hanya mendominasi di wilayah Soerakarta Hadiningrat. Resonansi popularitasnya terdongkrak, menyeruak hingga se-antero Jawa. Melambung. Selaras penampilannya di Pendapa Kaboepaten Koedoes pada 5 Juni 1874. Saat Boepati Raden Mas Toemenggoeng Ario Soerio Poesponegoro, menyunatkan anaknya, Raden Mas Soewitho.

-Advertisement-

Daya magis gadis, anak semata wayang janda pembatik di Kampung Laweyan, itu tak hanya merampas decak kagum para lelaki. Tetapi, juga menenggelamkan pamor tandak primadona di Kudus, Sandoelok. Sihir liuk erotiknya, menyambung dalam prosesi ritual Tjioko pada 27 Agustus 1877, yang digelar oleh saudagar China terkemuka di Koedoes. Tak berhenti begitu saja. Lagi-lagi, di Pendapa Koedoes, pada 19 September 1879, dalam pentas yang lebih meriahliar, tandak Adjeng semakin membius. Dalam acara halalbilhalal Hari Raya Idul Fitri. Setelah tampil sedari pagi hingga tengah malam, bersama peremuan tandak lokal Kudus, Adjeng masih harus meneruskan menari sendirian. Membuka kembali tari pada dini hari, sampai matahari menguapkan embun.

Tetamu terhormat Asisten Residen Djapara serta bawahannya yang juga orang Belanda, bangsawan pribumi, penjabat adat China, saudagar pribumi, serta tuan rumah Boepati Raden Mas Toemenggoeng Ario Soerio Poesponegoro, yang telah terbuai oleh sampanye dan candu, terkesima. Istri mereka pun, meski harus menyembunyikan, menaruh iri. Kepiawaian tandak Adjeng tak urung menyedot perhatian Bernard, yang datang ke Hindia Belanda untuk melakukan penelitian sosiologi dan antropologi. Bernard kemudian memprakarsai tari kolosal di pelataran Benteng Vasternburg Soerakarta, dan Adjeng sebagai maskotnya. Pergelaran Tari Gambyong yang mengguncang Benua Eropa.

Namun, kehadiran pria Belanda tersebut juga membuat luka semakin menganga. Dan Adjeng, baru mampu meraih kembali kegairahan hidup, setelah bertemu Chaterine. Dorongan semangat dari kepala Stasioen Kereta Api Koedoes itu, membulatkan tekadnya untuk mengultimatum bupati. Siang yang terik, pada pertengahan tahun 1884, Adjeng nandak sendirian di Aloen-aloen Koedoes. Tapa pepe. (yit)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER