BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria berkemeja putih terlihat sedang memberi pakan untuk puluhan ekor kambing, di belakang Ruko Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, beberapa waktu lalu. Pria itu bernama Ari Setiyo. Kambing-kambing itu bukan untuk dipelihara, melainkan untuk dijual kepada masyarakat yang akan berkurban tahun ini.
Kepada Betanews.id, Ari mengaku buka layanan pembelian kambing 24 jam nonstop. Terlebih mendekati Iduladha seperti sekarang ini, dirinya ingin memaksimalkan pelayanan kepada para pembeli yang datang, yang terkadang tidak mengenal waktu.
Baca juga: Buruan Beli Sekarang, Harga Kambing Kurban di Kudus Belum Naik
“Tempat jualan kambing ini buka 24 jam nonstop, jadi malam hari tetap buka dan siap melayani penjualan. Di sini ada dua orang yang bertugas jaga, tidur juga di sini,” ungkap Ari saat ditemui di tempat penjualan kambing miliknya, belum lama ini.
Ia mengatakan, harga kambing-kambing yang dijual tidak dipatok dengan harga tinggi. Ini karena jenis kambing yang dijual yakni kambing randu dan kambing krikil. Harga kambing jenis ini dikatakan lebih murah dibanding jenis kambing yang lain.
“Harganya mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 5,7 juta. Harga ini belum mengalami kenaikan. Untuk kenaikan harga kemungkinan H-10. Biasanya naik Rp 1 juta perekor,” jelas pria yang beralamat Kelurahan Purwosari RT 3 RW 6, Kudus, tersebut.
Ari mengaku telah membuka tempat penjualan kambing sejak tiga pekan terakhir ini. Sejak buka, pembeli sudah ramai berdatangan. Menurutnya, pembeli yang datang ke tempat penjualan kambing miliknya, di antaranya dari Kudus, Jepara, dan Pati.
Baca juga: Jelang Iduladha, Warga Kalianyar Demak Malah Kemalingan 10 Kambing
Ia menyebut, tempat penjualan kambing yang ada di Kudus ini baru dibuka tahun ini. Menurutnya, Meski begitu, penjualan di Kudus dinilai ramai, lantaran tempatnya berada di lokasi yang strategis.
“Sebelumnya tiga tahun terakhir ini jualan di Juwana. Tempat malah jauh dari keramaian, soalnya berada di dalam kampung. Sehingga pembelinya dari warga sekitaran saja,” tutur Ari.
Editor: Suwoko

