Prihatin Lihat Bantuan yang Tidak Tepat Sasaran, Cerita Anam Putuskan Ikut Seleksi Perades

BETANEWS.ID, KUDUS – Mukhamad Rifail Anam (27) tampak sedang bercanda tawa dengan istri dan seorang anaknya di ruang tamu rumah mertuanya Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Mereka tampak menikmati kebersamaannya setelah beberapa hari lalu mendapatkan nilai tertinggi dalam tes seleksi pengisian Perangkat Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus.

Saat ditemui, Anam begitu ia akrab disapa bersedia berbagi kisahnya sebelum ia mantap mencalonkan diri dan lolos tes perades. Ia mengatakan, keinginannya untuk menjadi perangkat desa sudah sejak lama semenjak ia bekerja sebagai pekerja kontrak di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus.

Mukhamad Rifail Anam bersama istrinya. Foto: Kaerul Umam.

Baca juga: Cerita Pasangan Suami Istri di Kudus yang Dapat Nilai Tertinggi Tes Seleksi Perades

-Advertisement-

Melihat bantuan untuk masyarakat desa sebagian tidak tepat sasaran, menjadi salah satu motivasinya untuk menjadi perangkat desa agar bantuan yang disampaikan kepada warga bisa akurat.

“Saat saya bekerja di BPS itu ada Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) yang tugasnya mendata masalah bantuan kepada warga yang kurang mampu dan kebetulan di situ saya sebagai pengawas lapangan di Desa Ngembalrejo, kebanyakan data dari kadus yang kosong itu bantuannya salah sasaran. Karena tidak adanya Kadus di sana, kemudian saya berminat untuk jadi perangkat itu,” bebernya.

Salah sasaran yang dimaksud menurutnya, di antaranya uang bantuan yang seharusnya ditujukan kepada warga yang memang ekonominya lebih rendah, malah diberikan kepada warga yang agak mampu.

“Data itu memang bukan kesalahan dari desa, karena data itu turun langsung dari kabupaten, nah kemarin saya benahi data di situ. Nah dari situ saya mengerti kalau di lingkungan yang tidak ada kadusnya itu seperti itu. Makanya, tekad saya untuk mendaftar Kadus, supaya bisa membantu warga lah. Karena banyak warga yang mengeluh,” terangnya.

Untuk mempersiapkan diri mengikuti tes seleksi, katanya, ia belajar di bimbel, dimana bimbel tersebut yang menjadi tempat belajar ketika ia mau daftar CPNS. Belajar di sana kurang lebih selama dua pekan dan untuk satu pekannya ada dua pertemuan.

“Agar bisa mengerjakan tes perades ini, saya belajar di bimbel yang berada di Desa Daren. Ini bukti keseriusan saya untuk menjadi perangkat desa. Karena saya dan istri memiliki visi yang sama, kita berdua akhirnya mendaftarkan diri dan alhamdulilah saat ini sesuai hasil tes, kami berdua lolos semua,” ungkapnya.

Ia mengakui jika soal yang diberikan oleh penyelenggara tersebut sangatlah sulit. Meski begitu, ia bersama dengan istrinya, nilai tesnya bisa mengungguli para pesaing di formasi yang berbeda. Anam dengan nilai tertinggi di formasi Kadus Botokidul dan istrinya Novia dengan nilai tertinggi di formasi Kadus Ngetuk.

Baca juga: Ingin Mengabdi Kepada Masyarakat, Alasan Laksmi Ikut Seleksi Pengisian Perangkat Desa

“Untuk persiapan yang saya lakukan itu memang belajar selama 2 pekan sebelum tes. Saya bersama istri belajar bersama dan bahkan saya belajar bersama istri setelah selesai belajar di bimbel. Karena yang belajar di bimbel hanya saya, dan istri kemudian tak kasih tahu materinya seperti apa,” paparnya.

Ia menambahkan, sampai saat ini untuk penyelenggaraan perades di Desa Ngembalrejo sangat obyektif tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ia juga menilai dengan tes sistem Lembar Jawab Komputer (LJK) yang diselenggarakan tersebut sangat terbuka.

“Jadi untuk sistem LJK ini menurut saya sangat tepat asal dengan memang terbuka. Sampai saat ini semua peserta yang mencalonkan diri di perades Desa Ngembalrejo tidak ada yang komplain karena memang sangat terbuka,” tandasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER