BETANEWS.ID, SEMARANG – Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu meminta Lurah dan Camat rutin memantau harga serta ketersediaan beras dan minyak goreng di pasar. Ia tidak ingin kecolongan hingga terjadi ketidakstabilan harga atau bahkan kelangkaan dua komoditas penyebab inflasi itu.
Ita berharap para Lurah dan Camat segera memberi laporan kepada dirinya jika sampai terjadi gejolak harga dan kelangkaan, sehingga dapat segera diantisipasi. Meski, sejauh ini Ita mengaku belum ada laporan yang buruk. Ia pun menegaskan jika Kota Semarang masih aman.
Menurut Ita, keterlibatan Lurah dan Camat dalam mengawasi fluktuasi harga serta potensi kelangkaan beras dan minyak goreng ini adalah bagian dari konsep bergerak bersama, yang merupakan jargon Pemerintah Kota Semarang. Hal ini karena pihaknya tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Perdagangan untuk mengontrol seluruh pasar di Kota Semarang.
Baca juga: Naiknya Harga Beras dan Minyak Goreng Jadi Penyebab Inflasi di Jateng
“Kalau kita hanya bicara Dinas Perdagangan, orangnya seberapa? Walaupun ada lurah-lurah pasar, tapi sebagai pengampu wilayah lebih tahu, ini adalah kolaborasi,” jelasnya.
Dirinya juga merasa belum perlu mengadakan pengawasan lewat satgas. Ia menginginkan konsep pengawasan adalah dari bawah, dengan pengampu wilayahnya adalah Lurah dan Camat yang bersinggungan langsung dengan pasar. Namun Ita menambahkan, soal bagian komunikasi dengan Bulog tentang ketahanan pangan tetap dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan.
Sementara, jelas Ita, di Kota Semarang sendiri terdapat Badan Usaha Milik Tani (BUMT) yang sejauh ini bermanfaat untuk menjaga ketersediaan dan kestabilan harga. Ita menceritakan jika beberapa waktu sebelumnya dirinya pernah mendapat laporan dari ketua BUMT yang telah menyalurkan kebutuhan beras di wilayah Mijen dan Gunungpati dari Kabupaten Semarang.
Editor: Ahmad Muhlisin

