BETANEWS.ID, KUDUS – Pravita Sari (32) siang itu tampak melayani beberapa pembeli yang datang dengan dibantu suaminya di lapak Steamboat dan Takoyaki yang berada di depan Kantor Disbudpar Kudus. Lapak itu terlihat ramai oleh pembeli.
Vita begitu ia akrab disapa bersedia berbagi kisahnya berjualan Steamboat dan Takoyaki kepada Betanews.id. Ia menuturkan, sebelum berjualan ia sempat kerja di pabrik garmen selama sepuluh tahun. Tiga tahun di pabrik garmen Demak, dan tujuh tahun di pabrik garmen Ungaran.
Lantaran ingin mengurus anak lebih maksimal, ia pun kemudian memutuskan berhenti dari kerjaannya dan memilih untuk berwirausaha. Menurutnya, dari segi waktu, berwirausaha lebih bebas dan tidak ada ikatan dari pekerjaan.

Baca juga: Nikmati Keunikan Rasa Steamboat yang Istimewa di Lapak Pinggir Jalan
“Alasan utama saya adalah anak. Kalau kerja pabrik itu kan untuk waktu tidak bisa bebas, kemudian saya keluar dari pabrik dan pilih berjualan, agar waktu untuk keluarga terutama anak itu bisa bebas,” beber Vita saat ditemui di lapaknya, Selasa (29/11/2022).
Ia menjelaskan, awal pertama kali ia berjualan dengan jajanan serupa itu di mulai di Demak. Alasannya karena tempat tersebut dekat dengan rumah orang tuanya yang berada di daerah Demak Kota. Sebenarnya untuk pemasarannya itu hampir sama di lapak yang saat ini ditempati, yakni di Kudus. Lantaran ingin lebih dekat dengan rumah tinggalnya di Karanganyar, Demak, ia pun jualan di Kudus yang kini baru berjalan dua pekan.
“Saya pindah jualan di Kudus ini karena, satu ingin tahu pasarannya lebih baik mana. Keduanya karena di Kudus itu lebih dekat dari rumah. Pertama jualan di sini itu tidak terlalu bagus, karena memang baru, jadi banyak orang yang tidak tahu. Namun setelah 5 hari, ada peningkatan penjualan yang mulanya sehari hanya bisa jual dengan adonan seperempat kilogram Takoyaki, kini bisa jual 3 sampai kilogram adonan Takoyaki,” ungkapnya.
Wanita yang saat ini tercatat sebagai warga Desa Ngemplik Wetan RT 7 RW 1, Kecamatan Karanganyar, Demak itu merasa bersyukur karena jualannya itu semakin laris dan semakin dikenal masyarakat Kudus khususnya.
Baca juga: Cerita Tri Rintis Usaha Pempek di Jepara, Berawal dari Himpitan Ekonomi saat Pandemi Covid-19
“Ya Alhamdulillah sampai saat ini ada perkembangannya. Semua kalangan mulai dari anak-anak hingga dewasa menyukai jajanan yang saya jual ini,” terang ibu dua anak tersebut.
Menurutnya, penghasilan berwira usaha lebih banyak dibandingkan dengan kerja di pabrik dulu. Selain penghasilan, waktu untuk keluarga juga bisa diandalkan, mengingat ia bekerja di usaha sendiri.
Editor: Kholistiono

