BETANEWS.ID, BALI – Saat berwisata ke Pulau Dewata Bali, bus kami yang menuju Tanah Lot terjebak macet. Kemacetan tersebut dikarenakan ada sebuah pengiringan jenazah yang akan dilakukan prosesi Ngaben. Di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, bila meninggal jenazahnya akan dibakar atau disebut Ngaben.
Tour Guide Bintang Bali yang menjadi pemandu kami yakni Nanang Nawawi mengatakan, bagi masyarakat Hindu di Bali jika meninggal dunia, maka wajib hukumnya dilakukan Ngaben, bagi yang mampu maupun tidak mampu. Sebab Ngaben dipercaya sebagai ritual penyempurnaan ruh orang yang meninggal.
Baca juga : Sejarah Pura Tanah Lot di Bali, Tercipta dari Ilmu Spiritual Resi Sakti dari Jawa
“Pemeluk agama Hindu di Bali mempercayai orang yang meninggal, jasad halusnya atau ruh belum terpisah dengan jasad kasarnya. Oleh sebab itu, untuk memisahkan ruh dengan jasad secara sempurna dibutuhkan prosesi pembakaran jenasah atau Ngaben,” ujar pria yang akrab disapa Bli Nanang kepada Betanews.id, beberapa waktu lalu.
Nanang menjelaskan Ngaben berasal dari kata Ngabu yang memiliki arti jadi abu. Segala sesuatu yang dibakar termasuk jenasah pasti akan menjadi abu. Setelah mayat sudah jadi abu, kemudian akan dilarung ke laut atau ke sungai terdekat.
“Namun, di Bali ini semua abu jenazah dilarung ke laut. Sebab di Bali tidak ada sungai. Berbeda dengan di India, selain dilarung ke laut, abu jenasah umat Hindu di sana malah lebih banyak dilarung di sungai yakni Sungai Gangga,” bebernya.
Dia menuturkan, pelarungan abu jenazah itu ada maksud dan tujuannya, yakni penyatuan lagi kepada alam. Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa manusia yang lahir itu berdasarkan dari alam, sehingga setelah meninggal pun dikembalikan kepada alam.
“Jadi, semua yang berasal dari alam akan kembali pula ke alam,” tandasnya.
Lebih lanjut Nanang menjelaskan, abu jenazah itu adalah perujudan jasad kasar setelah prosesi Ngaben. Sedangkan rohnya atau adma dipercaya langsung menuju Alam Nirwana atau surga. Tentunya bagi orang yang baik.
“Bagi orang jahat, setelah meninggal dan dilakukan prosesi Ngaben. Rohnya yang tak bisa mencapai surga dipercaya akan terlahir kembali jadi anak turunnya, atau warga Hindu di Bali menyebutnya reinkarnasi,” terangnya.
Baca juga : Berkunjung ke Tanah Lot, Satu di antara Ikon Destinasi Wisata di Bali yang Mempesona
Dia mengatakan, untuk pelaksanaan prosesi Ngaben dibutuhkan biaya yang tidak murah. Ia mengaku pernah bertanya kepada kerabatnya yang melaksanakan prosesi Ngaben untuk anaknya yang meninggal itu menelan biaya puluhan juta.
“Kerabat saya itu prosesi Ngabennya masih secara tradisional dan sangat sederhana, saat itu menelan biaya sekitar Rp 27 juta. Tidak ada bangunan rumah dan bade sapi,” bebernya.
Editor : Kholistiono

