BETANEWS.ID, KUDUS – Mulai tahun 2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberikan tiga opsi kurikulum yang dapat diterapkan satuan pendidikan dalam pembelajaran. Yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat, dan kurikulum prototipe.
Kurikulum darurat merupakan penyederhanaan dari kurikulum 2013 yang mulai diterapkan pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19.
Baca juga : Hartopo Ancam Hentikan PTM di 3 Sekolah Karena Satgas Covid-19 Tak Jalankan SOP
Sedangkan kurikulum prototipe merupakan kurikulum berbasis kompetensi untuk mendukung pemulihan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).
Di Kudus, kurikulum prototipe rencananya tahun ini juga akan diujicobakan. Koordinator Bidang Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Zubaedi mengatakan, bahwa kurikulum prototipe ini hadir untuk mengembalikan kompetensi siswa yang sempat melemah saat pandemi Covid-19. Sebab, semua pembelajaran tidak efektif.
“Saat pandemi banyak terjadi kelemahan akademis. Kurikulum ini untuk menutup kelemahan yang terjadi saat pandemi kemarin,” kata Zubaedi saat ditemui di ruangannya, Senin (31/1/2022).
Untuk sasaran kurikulum prototipe, menurutnya adalah sekolah-sekolah penggerak. Di mana Kabupaten Kudus memiliki 31 sekolah penggerak, yang terdiri dari 7 untuk satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 21 sekolah dasar (SD) dan 3 sekolah menengah pertama (SMP).
Rencana pelaksanaan kurikulum baru ini akan dimulai di tahun ajaran baru tahun 2022. Untuk saat ini, Disdikpora sedang gencar melakukan sosialisasi kurikulum ke sekolah-sekolah.
“Sosialisasi kita mulai di masing-masing SMP, kepala sekolah dan di masing-masing koordinator wilayah. Rencananya (kurikulum prototipe) akan diberlakukan tahun ajaran baru. Jadi untuk saat ini masih pakai kurikulum lama (kurikulum 2013),” jelasnya.
Baca juga : Gelar PTM Secara Penuh, SMPN 1 Kudus Tetap Perketat Prokes
Dalam kurikulum prototipe ini, pengembangan karakter siswa akan lebih ditekankan. Zubaedi menjelaskan, pembelajaran akan dirancang berbasis proyek untuk pengembangan soft skills dan karakter. Kemudian akan lebih fokus pada materi esensial. Sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar.
“Hal ini akan lebih memberikan fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid dan melakukan penyesuaian dengan konteks maupun muatan lokal,” tandasnya.
Editor : Kholistiono

