BETANEWS.ID, KUDUS – Suara deru mesin disel terdengar bising di area persawahan Dukuh Kadilangon, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Seorang pria di sana, tampak sedang memasukkan tebu ke mesin penggiling yang digerakkan disel itu. Dari mesin itulah, pria tersebut menunggu nira yang akan ia gunakan sebagai bahan utama pembuatan gula tumbu.
Di tempat lain, pria berkaus biru terlihat sedang menuangkan nira yang sudah kental dan berwarna merah ke dalam puluhan tumbu yang ada di depannya. Menurut pria yang diketahui bernama Muhammad Zudi (55) itu, anyaman bambu itulah asal usul penamaan gula tumbu.

“Dinamakan gula tumbu karena gula merah ini diwadahi ke dalam tumbu. Sedangkan cairan gula yang dituang ke tumbu ini harus diaduk biar bisa keras dan jadi gula sesuai harapan. Kalau tidak diaduk, nanti bisa gagal atau hasilnya jelek,” ujar pria pemilik usaha tersebut, Jumat (27/8/2021).
Sembari terus mengaduk, pria yang sudah menekuni usaha tersebut sejak 2010 itu mengaku harga gula tumbu saat ini bikin pusing. Untuk satu kilogram, ia hanya bisa menjual Rp 7.700 saja. Harga tersebut sangat rendah dan belum bisa menutup biaya operasional.
Baca juga: Melihat Pembuatan Gula Tumbu di Gondangmanis Kudus
“Bahkan kemarin harganya sempat Rp 7.500 per kilogram. Pokoknya bikin pusing, sebab dengan harga tersebut belum bisa menutup biaya operasional. Rugi kami,” ungkapnya.
Meski rugi, ia tetap harus produksi. Sebab gula tumbu merupakan usaha satu-satunya dan beroperasi musiman. Jika tidak produksi, ia nanti malah semakin rugi. Karena selama ini yang diproduksi jadi gula tumbu sebagian tebu yang ia tanam sendiri.
“Kalau tidak produksi gula tumbu, tanaman tebu saya seluas dua hektare terancam dibeli murah oleh orang. Malah saya bisa makin rugi,” beber warga Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus itu.
Muhzudi menambahkan, selama ini harga gula tumbu tidak pernah stabil. Sebab, gulanya dibeli tengkulak, sehingga rawan ada permainan harga. Padahal agar semua untung itu harga tumbu harusnya di atas Rp 8 ribu per kilogram.
“Selama ini harga itu seolah dipermainkan, kok. Setiap musim produksi gula tumbu pasti harganya langsung anjlok,” beber Muhzudi.
Baca juga: Desa Kandangmas, Pusat Produksi Gula Kawur di Kudus Sejak 30 Tahun Lalu
Dia mengatakan, produksi gula tumbu merupakan usaha musiman. Biasanya dimulai April atau Mei saat mulai musim tebang tebu, dan berakhir pada Oktober.
“Setiap produksi, kami bisa menghasilkan sekitar 500 kilogram sampai satu ton gula tumbu sehari. Tergantung tenaga dan daya tahan mesin,” kata Muhzudi yang mengaku punya empat pekerja tersebut.
Agar terbebas dari tengkulak, Ia pun berharap pihak pemerintah bisa membantu membentuk koperasi bagi para pemilik usaha gula tumbu. Nantinya, pihak koperasi bisa membantu pemasaran, sehingga tidak bergantung sama tengkulak.
“Ya, harapannya itu ada koperasi agar harga bisa stabil, serta kalau ada koperasi kan bisa minjam modal dulu untuk mulai usaha,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

