BETANEWS.ID, KUDUS – Berbeda dengan tahun-tahun lalu, warga Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, tahun ini menghadapi banjir dalam situasi pandemi Covid-19. Hal tersebut membuat pemerintah desa (pemdes) setempat harus menyiapkan tempat pengungsian dengan penerapan protokol kesehatan.
Suyitno, Kepala Desa Jati Wetan mengungkapkan, dengan penerapan protokol kesehatan tersebut, dikhawatirkan nantinya aula di balai desa tidak bisa menampung warga sebanyak tahun kemarin. Dengan adanya sekat, ia memperkirakan aula tersebut hanya dapat menampung maksimal 300 orang.

Baca juga : Pemdes Jati Wetan Dilema untuk Menyiapkan Tempat Pengungsian
“Kalau tahun-tahun sebelumnya bisa menampung sekitar 500 warga. Karena saat ini harus menerapkan protokol kesehatan, maksimal paling 300 orang,” bebernya kepada betanews.id, Senin (14/12/2020).
Dalam upaya mengantisipasi jika aula balai desa tidak cukup, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dua sekolah dasar (SD) di sana. Yaitu SD 2 dan SD 4 Desa Jati Wetan.
Meski belum dipersiapkan, dua SD tersebut sudah memberikan izin untuk digunakan sebagai tempat pengungsian. Suyitno akan mempersiapkan jika sudah ada tanda-tanda lonjakan jumlah pengungsi nantinya.
“Lokasi pengungsi ada penambahan di SD 2 dan SD 4. Dari dua SD tersebut ada 12 kelas yang digunakan nantinya. Tetapi akan digunakan setelah di sini penuh,” jelasnya.
Saat ini, pihaknya sedang menyiapkan masker dan penambahan tempat cuci tangan. Saat ini di sana baru tersedia lima tempat cuci tangan dan akan ditambah lebih banyak. Penambahan tersebut akan dikoordinasikan dengan pihak RT dan RW.
“Meski belum ada pengungsi, kami harus merencanakan dengan matang terkait protokol kesehatan. Saat ini baru ada lima tempat cuci tangan. Dan Kebutuhan masker baru kami upayakan,” katanya.
Muchamad Yakub menambahkan, karena banjir sudah menjadi hal yang rutin setiap tahunnya. Pihak desa sudah pernah mengajukan peningkatan kapasitas pompa air di sana.
Baca juga : Banjir Tak Kunjung Surut, Sejumlah Janda dan Lansia di Jati Wetan Sudah Ingin Mengungsi
“Pompa di sini jalan, tetapi yang dibuang dan yang masuk tidak seimbang. Airnya kalau tidak dipompa tidak akan surut. Kami cari informasi untuk memperbesar pompa membutuhkan biaya sekitar Rp 5 miliar. Kami sudah ajukan pada tahun 2018 tapi belum disetujui,” beber Sekretaris Desa itu.
Terkait kesehatan warga yang kebanjiran, hingga saat ini belum ada tanda-tanda penyakit. Keluhan dari warga pun belum ia terima. Demi mengantisipasi penyakit, pemdes bersama pihak puskesmas akan melakukan pemeriksaan kesehatan ke lokasi banjir pada hari ini.
Editor : Kholistiono

