BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang siswa kelas VIII di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Kudus diduga menjadi korban perundungan oleh sejumlah siswa. Akibat kejadian tersebut, korban berinisial ZA (13) harus menjalani perawatan dan operasi pada bagian hidung di rumah sakit.
Kakek korban, Yuli Kristianto, mengatakan keluarga awalnya mendapat informasi bahwa korban mengalami luka akibat terjatuh dari tangga di sekolah. Namun, setelah menjalani operasi dan kondisinya mulai membaik, korban disebut baru berani menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada keluarga.
“Setelah operasi korban sudah bisa bicara, baru mengaku kalau diancam. Katanya tidak boleh bilang sama guru BK,” bebernya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (14/8/2026).
Menurut penuturan korban kepada keluarga, kejadian bermula ketika korban diduga diajak ke kamar mandi sekolah. Di lokasi tersebut, disebut sudah terdapat tiga siswa lainnya. Korban kemudian diduga mengalami pemukulan oleh terduga pelaku hingga terjatuh.
“Jadi satu musuh empat. Tapi yang lainnya ngelihatin. Jadi korban dipukuli sampai jatuh. Setelah itu ada yang melerai dan menawarkan mengganti seragam supaya tidak terlihat darahnya,” ungkapnya.
Yuli menyampaikan, korban mengalami pendarahan pada bagian hidung. Setelah dibawa ke rumah sakit, pendarahan dapat dihentikan dan korban kemudian menjalani operasi.
Keluarga juga menyebut korban diduga sering mengalami perundungan sebelumnya. Bahkan, menurut Yuli, terdapat kejadian lain sebelum insiden tersebut, ketika korban disebut didatangi dan diintimidasi oleh sejumlah siswa.
Namun, Yuli menegaskan keluarga tidak ingin persoalan tersebut ditutup-tutupi. Mereka berharap pihak sekolah mengambil langkah tegas apabila dugaan perundungan tersebut terbukti.
“Harapan kami pelaku ditindak dan jangan ditutup-tutupi. Sekolah harus bisa memberikan rasa aman bagi siswanya,” tegasnya.
Ia mengaku, sebelumnya keluarga korban juga telah mendatangi sekolah dan bertemu dengan siswa yang disebut terlibat. Dalam pertemuan tersebut, menurut keluarga, siswa yang diduga terlibat menyampaikan bahwa korban mengalami luka karena terjatuh.
“Ibu korban ke sekolah lagi malah disalahin sama kepala sekolah. Akhirnya ngadu ke Kepala Desa Ploso, datang bareng-bareng sama polisi, tetapi pelaku gak mau mengangkat telepon. Pihak sekolah menjanjikan besok baru ditangani,” sebutnya.
Saat ini, korban masih menjalani pemulihan pascaoperasi dan masih dirawat di rumah sakit.
Sementara itu, pihak sekolah melalui Miftah Baidlowi menyatakan akan mempertemukan pihak korban dan siswa yang diduga terlibat untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pertemuan rencananya dilakukan untuk memperjelas persoalan sekaligus mencari penyelesaian secara baik.
“Rencananya besok pagi akan kami pertemukan agar masalah cepat selesai. Karena hari ini Jumat merupakan hari libur, jadi tidak bisa mempertemukan,” ujarnya.
Editor: Kholistiono

