Remaja 14 Tahun di Kudus Berjuang Lawan Tumor Otak, Sang Ibu Mohon Doa

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang remaja berusia 14 tahun asal Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, harus menjalani perawatan panjang setelah didiagnosis mengalami tumor otak. Remaja berinisial ABF tersebut merupakan siswa kelas IX di salah satu MTs swasta di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

Demi melawan penyakit yang dideritanya, sejak tahun ajaran baru 2026/2027, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sofwan (52) dan Mas’amah (37) itu tidak lagi masuk sekolah. Ia harus menjalani perawatan dan pemulihan akibat penyakit yang dideritanya.

Apalagi, kondisi yang dialaminya membuat penglihatannya sudah tidak lagi jelas seperti sebelumnya. Bahkan, untuk berdiri dan berjalan, ia membutuhkan bantuan orang lain.

-Advertisement-

Sang ibu, Mas’amah (37), mengatakan kondisi anaknya mulai mengalami gangguan kesehatan sekitar satu bulan sebelum dibawa ke rumah sakit. Gejala awal yang dirasakan berupa mual dan muntah yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan.

Kondisinya kemudian semakin memburuk setelah mengalami kejang. Keluarga akhirnya membawa ABF untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

“Awalnya mual dan muntah selama satu bulan, kemudian kejang. Setelah itu saya bawa ke rumah sakit,” bebernya.

Baca juga : Sambut HUT RI ke-81, Denda Tunggakan PBB Kudus Dibebaskan hingga Akhir Bulan Ini

Setelah menjalani pemeriksaan, ABF diketahui mengalami tumor otak. Ia kemudian menjalani perawatan sejak 1 Juli hingga 1 Agustus di RS Mardi Rahayu.

Dalam penanganannya, dokter memasang selang untuk membantu mengeluarkan cairan dari bagian kepala.

Meski telah menjalani operasi dan perawatan, kondisi ABF hingga kini masih membutuhkan perhatian. Ia bahkan sudah kesulitan untuk berdiri.

“Sudah tidak bisa berdiri. Kalau dibuat berdiri dan berjalan, kepalanya terasa sakit,” kata Mas’amah.

Kini, ABF membutuhkan waktu untuk pemulihan setelah menjalani perawatan. Setelah kondisinya mengalami perubahan pascaperawatan, rencananya remaja tersebut akan melanjutkan pengobatan dengan menjalani operasi di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Namun, rencana tersebut juga membuat keluarga, terutama ibunya, diliputi kekhawatiran karena mengetahui adanya risiko besar dalam tindakan operasi terhadap anaknya.

“Saya takut kalau operasi, karena risikonya besar,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

Selama menjalani pengobatan, biaya perawatan ABF ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Selain itu, keluarga juga telah mendapat perhatian dari sejumlah pihak, di antaranya Dinas Sosial dan BAZNAS.

Ia mengaku kondisi tersebut sempat membuat anaknya putus asa dengan penyakit yang dialaminya. Namun, keluarga tetap berusaha mendampingi, memberi semangat, dan mencari jalan terbaik untuk kesembuhan ABF.

Kini, keluarga hanya berharap proses pengobatan anaknya dapat berjalan lancar dan kondisi kesehatannya berangsur membaik.

“Kami berharap bantuan doa, semoga anak sehat dan bisa kembali pulih,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER