Kisah Mbah Riyan, Penulis Kitab Berkelas Dunia Asal Kudus yang Tolak MUI Award

BETANEWS.ID, KUDUS – Nama Mbah Riyan atau Ibnu Harjo Al Jawi belakangan ini mencuri perhatian publik setelah tidak menghadiri acara penerimaan penghargaan MUI Award 2026. Karya kitabnya masuk nominasi sekaligus meraih penghargaan pada kategori Karya Tulis Islam.

Meski karyanya diakui hingga tingkat internasional, ia lebih memilih jalan sunyi daripada diselimuti keriuhan yang kerap memusingkan. Namun demikian, Mbah Riyan tetap konsisten berkarya. Ia berharap karya-karya yang dihasilkannya dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

Penolakan undangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke Jakarta pada pertengahan Juli 2026 itu bukan tanpa alasan. Ia ingin menjalani hidup yang lebih sederhana, jauh dari hiruk pikuk dunia. Hal itu tercermin dari kesehariannya yang bekerja sebagai tukang bangunan serta menekuni hobi memancing.

-Advertisement-

“Ya karena ingin hidup tenang, sederhana, dan menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah,” bebernya.

Sikapnya yang menolak hadir dalam perhelatan besar tersebut kembali mencuri perhatian publik. Kesederhanaannya dan keengganannya untuk menjadi terkenal membuat banyak orang, termasuk warganet, terkesan.

“Menjalani hidup selayaknya orang biasa saya rasa sudah cukup. Tidak perlu mengejar ketenaran, yang terpenting karya yang saya buat ini bisa bermanfaat bagi banyak orang,” tuturnya.

Baca juga : Ringkas 25 Kitab Berbahasa Arab, Siswa MA Qudsiyyah Kudus Lolos ke Dubai

Pria bernama asli Supriyanto itu tinggal di Desa Wates RT 2 RW 5, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, bersama istri dan empat anak laki-lakinya. Pria kelahiran Kudus pada 1986 itu telah menghasilkan sejumlah karya, termasuk kitab berbahasa Arab.

Kepiawaiannya dalam menulis dan melakukan tahqiq (penyuntingan) kitab kuning berawal dari latar belakang pendidikannya yang berfokus pada pendidikan Islam. Semasa sekolah, ia menempuh pendidikan formal di SD 3 Wates, MTs Nahdlatul Muslimin Undaan Kidul, dan MA Nahdlatul Muslimin Undaan Kidul. Selain itu, ia juga mengikuti pendidikan nonformal di Madrasah Diniyah Hidayatul Huda di kampung halamannya, kemudian melanjutkan mengaji di tempat yang sama pada malam hari.

Ilmu-ilmu yang dipelajarinya sejak kecil membuatnya akrab dengan kitab-kitab klasik keislaman. Ketekunannya dalam belajar juga membuahkan hasil berupa beasiswa untuk melanjutkan studi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta.

“Alhamdulillah saya menjadi satu-satunya siswa di sekolah kala itu yang menerima beasiswa di kampus tersebut,” ujarnya.

Selama kuliah, ia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi. Berkat prestasinya itu, ia mendapat undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.

Ia lulus dari LIPIA dengan predikat peringkat tiga terbaik. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia diminta mengabdi di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar Raayah.

“Semasa kuliah, saya juga nyambi bekerja untuk menghasilkan uang sendiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari jualan donat, kebab, hingga jualan keliling saya jalani sejak 2005 hingga lulus pada 2013,” tuturnya.

Mbah Riyan juga menemukan pasangan hidupnya saat masih menjadi mahasiswa. Karena telah berkeluarga dan dikaruniai anak, ia harus bekerja sambil tetap menjalani kuliah dan menyunting kitab.

“Karena sudah menikah dan dikaruniai anak, jadi saya harus bergerak dan bekerja apa saja untuk menyambung hidup. Dari situ saya mulai terbiasa membagi waktu dan masih sempat menulis,” ungkapnya.

Pada 2018, ia memutuskan menjalani kehidupan slow living bersama istri dan anak-anaknya di kampung halaman. Di balik karya-karyanya yang diakui penerbit internasional, ia mengaku hanya ingin hidup sebagai manusia biasa. Ia tidak ingin menjadi terkenal, diperbincangkan banyak orang, ataupun mengejar popularitas.

Kini ia lebih nyaman menjalani hidup sederhana dan menikmati waktu bersama keluarga. Meski bekerja sebagai tukang bangunan, bahkan pernah menjadi kuli panggul beras dan petugas sortir jasa ekspedisi, ia merasa lebih bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER