Ringkas 25 Kitab Berbahasa Arab, Siswa MA Qudsiyyah Kudus Lolos ke Dubai

BETANEWS.ID, KUDUS – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan di Kabupaten Kudus. Siswa MA Qudsiyyah Kudus, Muhammad Luqmanul Hakim (17), terpilih menjadi salah satu wakil Indonesia pada ajang Arabic Reading Challenge (ARC) International yang akan digelar di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Oktober 2026.

Luqman berhasil lolos setelah melalui rangkaian seleksi nasional yang sangat ketat. Dari sekitar 50 peserta dari seluruh Indonesia, hanya dua peserta terbaik yang berhak mewakili Indonesia ke ajang tingkat internasional tersebut.

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) MA Qudsiyyah Kudus, Muhammad Zidny Ilma, mengatakan capaian tersebut menjadi sejarah baru bagi sekolahnya karena untuk pertama kalinya berhasil mengirimkan peserta ke ajang internasional.

-Advertisement-

“Baru tahun ini sekolah kami bisa go internasional melalui Arabic Reading Challenge. Ini menjadi kebanggaan bagi madrasah karena untuk pertama kalinya bisa mengirim pelajar ke ajang internasional. Kalau pelajar yang lulus kemudian menimba ilmu ke luar negeri sudah menjadi hal yang biasa, tetapi jika melalui kejuaraan seperti ini, baru pertama kalinya,” ujarnya saat ditemui di sekolahnya, Kamis (30/7/2026).

Baca juga : KPU Kudus Luncurkan Pilketos Serentak, Pertama di Jateng

Ia menjelaskan, kompetisi tersebut dimulai sejak pendaftaran pada 3 Maret 2026. Pada tahap awal, peserta diwajibkan membaca sekaligus merangkum sedikitnya 25 kitab berbahasa Arab.

Dari 50 peserta yang mengikuti seleksi nasional, hanya 18 peserta yang mampu menyelesaikan seluruh rangkuman kitab sesuai ketentuan. Selanjutnya, jumlah tersebut mengerucut menjadi 12 peserta terbaik dari seluruh jenjang pendidikan, mulai SD, SMP, hingga SMA.

Pada tahap tersebut, Luqman berhasil meraih juara pertama tingkat nasional untuk kategori SMA. Seleksi kemudian kembali dipersempit menjadi 10 grand finalis yang menjalani wawancara dengan panitia Indonesia dan penyelenggara dari Dubai melalui Zoom.

“Hasil akhirnya dipilih dua peserta terbaik Indonesia yang akan berangkat ke Dubai. Alhamdulillah Mas Luqman menjadi peringkat kedua dan berhak mewakili Indonesia,” katanya.

Guru Bahasa Arab MA Qudsiyyah Kudus, Muhammad Ali Mustaan, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam kompetisi tersebut bukan sekadar membaca kitab, melainkan memahami isi, menganalisis, kemudian menyusunnya kembali menjadi ringkasan menggunakan bahasa sendiri.

Kitab-kitab yang dirangkum merupakan literatur berbahasa Arab dengan tema sejarah tokoh-tokoh Islam, seperti Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Sayyidah Khadijah, Imam Al-Ghazali, dan tokoh-tokoh lainnya.

“Setiap kitab rata-rata lebih dari 100 halaman. Peserta tidak boleh sekadar menyalin isi buku, tetapi harus membuat ringkasan sendiri berdasarkan pemahaman mereka,” jelasnya.

Selain itu, pada babak internasional nanti peserta akan mengikuti sesi munaqasyah atau wawancara menggunakan bahasa Arab. Materi yang ditanyakan berkaitan dengan 25 kitab yang telah diringkas serta kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab.

Oleh karena itu, pihak madrasah akan memberikan pendampingan secara intensif menjelang keberangkatan ke Dubai.

“Kami akan memperkuat kemampuan komunikasi bahasa Arab dan memperkaya kosakata agar ketika diwawancarai langsung oleh dewan juri internasional, Luqman lebih siap dan percaya diri,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Luqmanul Hakim mengaku tidak menyangka mampu lolos hingga tingkat internasional. Informasi mengenai lomba tersebut pertama kali diperolehnya dari orang tuanya saat pendaftaran dibuka pada Maret lalu.

Ia mengungkapkan proses merangkum 25 kitab membutuhkan waktu sekitar 21 hari. Setiap dua hari ia menargetkan menuntaskan satu kitab, kemudian membuat poin-poin penting sebelum menyusun ringkasan dan mengunggahnya ke sistem panitia.

“Buku-bukunya saya ambil dari Noor Library, perpustakaan digital Arab terbesar. Mayoritas membahas sirah (riwayat) Nabi, para sahabat, ulama, dan tokoh-tokoh besar Islam,” katanya.

Luqman yang merupakan siswa kelas X MA Qudsiyyah Kudus sekaligus santri Pondok Pesantren Al Maimuniyah, Langgar Dalem, Kudus, mengaku kecintaannya terhadap literatur Arab tumbuh sejak duduk di bangku MTs.

Menurut putra pasangan Subari dan Siti Ni’amah itu, bekal ilmu nahwu dan sharaf yang dipelajarinya di pesantren menjadi kunci utama untuk memahami kitab-kitab berbahasa Arab.

“Yang paling penting bukan hanya bisa berbahasa Arab, tetapi memahami struktur bahasanya. Alhamdulillah, ilmu yang saya dapat di pondok sangat membantu hingga bisa mencapai tahap ini,” tuturnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER