Dulu Antre di ATM, Kini Pedagang di Jepara Andalkan Mobile Banking

BETANEWS.ID, JEPARA – Sejak pukul 06.00 WIB, Wahyu Winarti (34), salah seorang pedagang di Pasar Welahan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, sudah berjibaku dengan tumpukan sembako di kiosnya.

Kios milik Winarti yang berada di sisi barat gerbang utama pasar setiap pagi selalu menjadi tujuan para pemilik warung eceran maupun pedagang makanan. Selain menjual sembako, Winarti juga menyediakan aneka bumbu dapur, seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan tomat.

Untuk memenuhi kebutuhan stok barang di kiosnya, Winarti berbagi tugas dengan suaminya, Akhmadi (36). Kios tersebut mulai mereka rintis pada Februari 2022. Saat itu, jumlah barang dagangan yang dijual belum sebanyak sekarang.

-Advertisement-

Sejak awal merintis usaha, Winarti mengatakan tidak hanya mengandalkan sales yang setiap hari datang ke pasar. Ia dan suaminya juga rutin datang langsung ke toko grosir, terutama ketika barang dari sales sulit diperoleh.

Dulu, karena stok barang masih sedikit dan kapasitas kios terbatas, setiap pembelian barang dagangan masih dibayar secara tunai.

“Sekarang karena belinya lebih banyak dan kadang dikirim ke rumah, kalau bayar pakainya transfer,” kata Winarti saat ditemui di kiosnya, Minggu (28/6/2026).

Winarti sebenarnya sudah lama menjadi pengguna layanan perbankan digital BRImo. Saat awal merintis usaha, ia sempat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp10 juta sebagai tambahan modal untuk mengisi stok dagangan.

Namun, setelah pinjamannya lunas, Winarti jarang menggunakan BRImo. Rekeningnya pun tidak lagi aktif dipakai bertransaksi karena mayoritas transaksi di pasar masih dilakukan secara tunai.

Sekitar setahun terakhir, ketika usahanya berkembang dan jumlah stok barang semakin banyak, Winarti mulai lebih sering menggunakan layanan transfer untuk membayar barang dagangan.

Selain itu, sebagian pembeli juga mulai memilih pembayaran melalui transfer karena tidak membawa uang tunai.

“Kalau kayak gitu, saya biasanya minta tolong sama adik. Bayar dagangan ke sales sehari dua atau tiga kali transfer, yang transfer ya adik. Termasuk kalau ada pembeli yang bayarnya transfer, dikirimnya ke rekening adik, kebetulan sama-sama BRI,” ujar Winarti.

Setelah itu, Winarti akan mengganti uang yang ditransfer adiknya atau meminta uang tunai untuk membayar kebutuhan usahanya.

Namun, karena sang adik kini melanjutkan pendidikan di Semarang dan jarang berada di rumah, Winarti akhirnya mengaktifkan kembali akun BRImo yang sebelumnya lama tidak digunakan.

“Sekarang BRImonya saya pakai lagi, daripada harus bolak-balik ke ATM, kadang enggak ada waktu buat mampir,” ujarnya.

Kisah serupa, tetapi dengan latar belakang berbeda, dialami Faza Amalia (24), pemilik usaha daring asal Desa Mayong, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.

Sebagai nasabah BRI dari kalangan Generasi Z, Faza membuka rekening BRI pada 2017 atas permintaan kakaknya untuk memudahkan kebutuhan transfer uang keluarga.

Sejak 2022, saat masih menjadi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Faza mulai merintis usaha kerudung dengan merek Aisyah Hijab. Saat itu, konsumennya mayoritas berasal dari lingkungan kampus.

Ia menjual lima jenis hijab dengan harga mulai Rp16 ribu hingga Rp35 ribu per buah, tergantung ukuran dan kualitas bahan.

Usahanya kemudian berkembang dengan membuka toko di TikTok Shop dan Shopee. Untuk mendukung transaksi, Faza menggunakan rekening BRI dan dompet digital.

Namun, karena dompet digital harus diisi saldo terlebih dahulu dan tidak menyediakan layanan tarik tunai, Faza akhirnya lebih mengandalkan BRImo.

“Awalnya pakai BRImo karena SeaBank kan enggak bisa tarik tunai. Terus kalau buat bayar pas kulakan kerudung, SeaBank juga harus diisi saldo. Daripada bolak-balik ke ATM, akhirnya saya pakai BRImo,” ujar Faza.

Saat ini usaha kerudungnya memang tidak seramai dulu karena ia telah bekerja sebagai karyawan swasta. Meski demikian, setiap ada pesanan, Faza tetap berusaha menyediakannya sehingga transaksi di rekeningnya tetap berjalan.

Terpisah, Manajer Mikro BRI Cabang Jepara, Agus Winarso, mengatakan di Kabupaten Jepara saat ini terdapat sekitar 110 ribu nasabah pengguna BRImo.

Menurut Agus, luasnya jaringan layanan BRI, baik kantor cabang maupun ATM yang menjangkau hingga kecamatan dan desa, menjadi salah satu alasan banyak pedagang seperti Winarti dan Faza tetap memilih menggunakan BRImo.

“Jaringan kami banyak menjangkau sampai ke kecamatan dan desa, jadi begitu mereka butuh, BRI yang paling dekat dan paling mudah diakses,” ujar Agus.

Bagi Winarti dan Faza, menggunakan BRImo bukan semata mengikuti tren atau ingin terlihat melek digital. Aplikasi tersebut menjadi solusi praktis yang membantu mereka menjalankan usaha tanpa harus bolak-balik ke ATM.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER