Jeritan Pengusaha Roti Kudus, Pemadaman Listrik Bergilir Akibatkan Usaha Merugi Hingga Jutaan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah, terutama di Kabupaten Kudus dalam sepekan terakhir, mulai dikeluhkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Seorang pengusaha roti rumahan di Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, misalnya, mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah akibat pemadaman listrik yang berulang.

Pemilik usaha roti tersebut, Norman, mengatakan pemadaman listrik terjadi tanpa adanya pemberitahuan sehingga mengganggu proses produksi di rumah usahanya yang memproduksi berbagai jenis roti, mulai dari donat, burger, bolu, hingga roti isi pisang.

Menurutnya, dalam sepekan terakhir listrik padam hingga empat kali. Kondisi tersebut membuat proses produksi tidak berjalan maksimal karena sebagian besar peralatan yang digunakan bergantung pada pasokan listrik.

-Advertisement-

“Pemadaman terjadi sekitar empat kali dalam seminggu terakhir. Apalagi pemadaman listrik tanpa pemberitahuan sebelumnya,” bebernya.

Norman mengaku mengalami kerugian besar akibat listrik yang tiba-tiba padam. Pasalnya, proses pembuatan roti mengandalkan oven listrik sehingga adonan yang sedang diproses gagal mengembang dengan sempurna.

“Adonan tidak dapat mengembang sempurna. Karena listrik tiba-tiba padam, akibatnya proses pemanggangan terhenti dan adonan menjadi kempis dan gagal mengembang dengan baik,” keluhnya.

Baca juga : Pemkab Kudus Musnahkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal

Untuk mengurangi kerugian, adonan yang seharusnya dipanggang terpaksa digoreng. Namun, hasilnya jauh dari standar karena tekstur roti menjadi lebih keras, sedangkan bentuk dan warnanya kurang menarik.

Akibat kualitas produk menurun, Norman terpaksa menjual roti tersebut dengan harga jauh di bawah harga normal. Jika biasanya satu buah roti dijual sekitar Rp2.000, kali ini hanya laku antara Rp400 hingga Rp500 per buah.

“Kalau untuk kerugian akibat pemadaman listrik tanpa pemberitahuan itu bisa mencapai sekitar 75 hingga 80 persen. Sedangkan kalau diuangkan, kerugian mencapai Rp1,5-2 juta sehari,” ungkapnya.

Norman berharap pemerintah dan pihak PLN dapat menjaga kestabilan pasokan listrik atau setidaknya memberikan informasi jadwal pemadaman secara lebih pasti. Dengan begitu, pelaku UMKM dapat menyesuaikan jadwal produksi sehingga kerugian serupa tidak terus berulang.

“Kalau memang harus ada pemadaman, kami berharap ada pemberitahuan lebih dulu supaya produksi bisa diatur dan tidak mengalami kerugian seperti ini,” harapnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER