Dulu Dijual Pakai Nama Daerah Lain, Petani Kopi di Tempur Jepara Kini Bangkit Bangun Merek Sendiri

BETANEWS.ID, JEPARA – Dianugerahi alam yang subur dan berada di lereng Gunung Muria, masyarakat Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, menggantungkan hidup pada komoditas kopi sebagai salah satu tulang punggung perekonomian.

Namun, selama bertahun-tahun para petani kopi di desa tersebut hanya menjual hasil panennya kepada tengkulak. Selain harga yang relatif rendah, identitas Kopi Tempur juga kerap hilang karena saat dipasarkan, kopi tersebut dijual menggunakan nama daerah lain.

Sebagai upaya melawan kondisi tersebut, kelompok petani kopi di Desa Tempur kini mulai bangkit dengan mengolah hasil panen sendiri dan membangun merek (brand) Kopi Tempur.

-Advertisement-

Salah satu penggagas langkah tersebut adalah Nur Solikin atau akrab disapa Aji, petani kopi Desa Tempur yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Romban Djoyo.

“Dulu kalau dijual ke tengkulak, Kopi Tempur sering dibranding sebagai kopi daerah lain seperti Temanggung. Sehingga saya sama temen-temen mulai membuat produk, selain untuk menjaga nama Kopi Tempur juga supaya ada peningkatan harga jual,” beber Aji saat ditemui di kediamannya di Dukuh Pekoso RT 1 RW 3, Desa Tempur, beberapa waktu lalu.

Lahan kopi di Desa Tempur berada pada ketinggian 500 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), lokasi yang sangat ideal untuk budidaya kopi.

Selain letaknya yang strategis, kondisi tanah yang mengandung unsur vulkanik dari letusan Gunung Muria ribuan tahun lalu serta suhu sejuk pegunungan membuat Kopi Tempur memiliki karakteristik rasa dan kualitas yang khas.

Terdapat dua varietas kopi yang dibudidayakan di Desa Tempur, yakni robusta dan arabika. Kopi robusta Tempur memiliki cita rasa yang didominasi aroma gula jawa dengan tingkat keasaman yang relatif lebih tinggi. Karakter ini berbeda dari robusta pada umumnya yang identik dengan rasa pahit yang kuat.

Keunikan tersebut dipengaruhi oleh kondisi tanah dan letak geografis Desa Tempur yang berada di lereng Gunung Muria.

Sementara itu, kopi arabika Tempur juga memiliki kualitas yang tidak kalah baik. Namun, jumlahnya kini hanya sekitar 10 persen dari total tanaman kopi yang ada.

Varietas arabika sebenarnya lebih dahulu dikenal masyarakat Tempur dengan sebutan Kopi Jawa. Namun, karena pernah terserang hama, petani kemudian beralih membudidayakan robusta.

Luas lahan kopi di Desa Tempur mencapai sekitar 450 hektare. Dengan kondisi tanah yang subur, setiap hektare lahan mampu menghasilkan 1 hingga 1,2 ton biji kopi per tahun.

Berbekal keunikan cita rasa Kopi Tempur, Aji bersama rekan-rekannya mulai memberanikan diri mengolah dan memproduksi sendiri biji kopi menjadi kopi bubuk pada 2014.

Untuk menunjang produksi, Aji membeli berbagai peralatan seperti mesin grinder (penggiling kopi) dan sealer (alat penyegel kemasan).

Peralatan tersebut dibeli menggunakan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Sebagai nasabah KUR sejak 2009, plafon pinjaman yang diterima Aji terus meningkat seiring perkembangan usahanya.

Dari awalnya hanya Rp5 juta sebagai modal usaha sebelum menjadi petani kopi, pinjamannya meningkat menjadi Rp25 juta, kemudian Rp50 juta, hingga terakhir mencapai Rp100 juta.

“Pinjaman KUR BRI itu saya gunakan selain untuk perawatan lahan kopi, juga untuk beli mesin produksi dan modal beli biji kopi dari petani lain pas stok kopi saya habis,” ungkap Aji.

Menurutnya, nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan kopi jauh lebih besar dibanding menjual kopi dalam bentuk bahan mentah.

Sebagai gambaran, pada 2014 harga kopi ceri di tingkat tengkulak hanya sekitar Rp15 ribu per kilogram. Namun setelah diolah menjadi kopi bubuk, nilainya dapat mencapai Rp80 ribu per kilogram.

Saat ini harga kopi ceri masih berada pada kisaran yang hampir sama. Sementara harga biji kopi mentah atau green bean berkisar Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram untuk kualitas asalan dan sekitar Rp65 ribu per kilogram untuk hasil petik merah.

Adapun kopi yang telah diolah dan dikemas memiliki nilai jual jauh lebih tinggi, yakni sekitar Rp120 ribu hingga Rp600 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan jenis produk.

Kenaikan harga tersebut terjadi karena kopi telah melalui berbagai tahapan produksi, mulai dari penyortiran, pengelompokan kualitas (grading), hingga proses pengolahan dan pengemasan.

Produk kopi milik Aji kini dipasarkan dengan nama Kopi Tempur Asli (KiTA). Selain dirinya, saat ini terdapat sekitar 28 petani lain di Desa Tempur yang telah memiliki merek Kopi Tempur masing-masing.

Untuk memperluas pasar, Aji aktif mengikuti berbagai ajang promosi dan kompetisi. Salah satunya Kompetisi Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) pada 2016.

Melalui kompetisi tersebut, ia semakin memahami kualitas dan potensi Kopi Tempur.

Aji juga aktif mengikuti berbagai pameran, di antaranya Expo UMKM yang diselenggarakan BRI di Padang, Sumatera Barat, pada 2016 serta pameran di Jakarta Convention Center (JCC) pada 2019.

Selain kedua kegiatan tersebut, ia juga rutin mengikuti berbagai pameran lain, baik yang mendapatkan subsidi maupun menggunakan biaya pribadi.

“Sekarang Kopi Tempur tidak hanya dikenal di lokal Jepara, tapi sudah meluas ke daerah lain, seperti Jakarta, Jogja, Klaten, Sulawesi. Pernah dibawa teman juga ke luar negeri, sempat ada permintaan, tapi ngga bisa lanjut,” ungkap Aji.

Sebagai bentuk perlindungan sekaligus upaya memperluas pasar, Aji bersama anggota Kelompok Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Tempur Jepara saat ini sedang mengajukan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) untuk Kopi Tempur.

“Harapannya setelah mendapat pengakuan sertifikasi IG, Kopi Tempur yang selama ini dibeli tengkulak penjualannya bisa lebih terstruktur dan sistematis serta bisa mengekspor Kopi Tempur sendiri,” harap Aji.

Sementara itu, Kepala BRI Unit Kelet, Vero Afief Saputra, mengatakan bahwa dalam penyaluran KUR, BRI menyediakan pembiayaan untuk dua kebutuhan utama, yakni modal kerja dan investasi.

“Modal kerja ini bisa digunakan untuk biaya pengolahan tanah maupun perawatan kopi, sementara modal investasi salah satunya bisa digunakan untuk membeli mesin produksi kopi,” jelas Vero saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha kopi di Desa Tempur, pada 2024 BRI melalui Program Klasterku Hidupku memberikan bantuan tiga unit mesin roasting (pemanggang) kopi.

“Selain itu, apabila produk kopi hasil olahan petani sudah memiliki sertifikasi halal, kami siap membantu membuka jalur penjualannya melalui fasilitas Rumah BUMN BRI,” tambah Vero.

Terpisah, dosen Magister Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Mohamad Rifqy Roosdhani, menilai langkah petani kopi Desa Tempur mengolah hasil panennya sendiri merupakan terobosan yang progresif.

Menurut Rifqy, petani Tempur mulai bergerak dari sektor hulu yang hanya berfokus pada budidaya dan penjualan biji kopi mentah menuju sektor hilir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi melalui pengolahan produk.

Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak maupun praktik ijon.

“Tengkulak ini memang problem utama di Tempur. Sehingga bagi petani yang bisa melepaskan diri dari tengkulak, kemudian mengolah biji kopinya sendiri ini sudah langkah yang bagus, apalagi dengan dibantu dukungan modal dari KUR,” ujar Rifqy.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa selain dukungan permodalan, petani juga membutuhkan pelatihan pengolahan dan pemasaran agar usaha yang dijalankan dapat berkembang secara berkelanjutan.

Bagi Aji, perjalanan menjadi petani yang mampu lepas dari ketergantungan pada tengkulak dan membangun merek sendiri bukan semata-mata soal keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya menjaga identitas Kopi Tempur agar tidak hilang di balik label daerah lain.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER