Dikukuhkan Jadi Guru Besar UIN Sunan Kudus, Prof. Kisbiyanto Gaungkan Pendidikan Berbasis Integritas

BETANEWS.ID, KUDUS – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus kembali menambah jajaran guru besarnya. Kali ini, Prof. Dr. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sunan Kudus dalam prosesi yang berlangsung di Gedung Laboratorium Terpadu Lantai 5, Senin (22/6/2026).

Prof. Kisbiyanto mengangkat hasil riset bertajuk Integrity Based Behavior Management, sebuah konsep manajemen yang menekankan pentingnya integritas sebagai landasan utama dalam membentuk perilaku individu dan kepemimpinan yang efektif. Ia mengaku bersyukur karena telah melalui proses yang cukup panjang untuk dapat menjadi guru besar.

“Tentu kita bersyukur dan senang. Menjadi profesor itu melalui proses panjang, belajar sejak kecil hingga sekarang, melakukan banyak riset dan pengembangan ilmu yang pada akhirnya harus bisa diaplikasikan kepada masyarakat,” bebernya usai prosesi pengukuhan, Senin (22/6/2026).

-Advertisement-

Menurutnya, berbagai sistem pengawasan seperti CCTV, aturan, hingga sanksi hukum memang diperlukan untuk mengendalikan perilaku menyimpang. Namun, upaya tersebut tidak akan seefektif jika setiap individu memiliki integritas yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Baca juga : Sam’ani Pimpin Korve Massal di Terminal Bakalan Krapyak, Kampanyekan Pilah Sampah

“Kalau kita jujur karena ada CCTV, sebenarnya itu belum sepenuhnya jujur. Kalau kita tidak korupsi hanya karena takut ketahuan, itu juga belum integritas. Yang paling penting adalah melakukan kebaikan karena memang muncul dari kesadaran diri sendiri,” jelasnya.

Guru besar yang meneliti topik tersebut selama sekitar 10 tahun itu meyakini bahwa penguatan integritas dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari nilai-nilai spiritual, pendidikan agama, pelatihan karakter, hingga pengembangan kecerdasan emosional.

Ia menilai masyarakat Indonesia sejatinya memiliki modal sosial yang kuat berupa banyaknya orang baik yang berintegritas. Hanya saja, kasus-kasus negatif sering kali lebih banyak mendapat perhatian publik.

“Indonesia ini sebenarnya masih banyak orang baik. Yang buruk jumlahnya sedikit, tetapi kasusnya besar sehingga sering menjadi sorotan. Karena itu, kita perlu membangun optimisme dan memperkuat integritas masyarakat,” katanya.

Dalam konteks pendidikan, Prof. Kisbiyanto menegaskan bahwa penguatan integritas harus dimulai dari lingkungan sekolah dan para pendidik. Menurutnya, berbagai perubahan kurikulum yang terjadi selama ini bukan persoalan utama karena substansi pendidikan pada dasarnya tetap sama, yakni membantu peserta didik memahami ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan.

“Yang penting bukan hanya kurikulumnya. Mau Kurikulum Merdeka, deep learning, atau model lainnya, intinya sama. Yang perlu dibangun adalah keyakinan bahwa ilmu akan membawa kesejahteraan dan kemajuan hidup,” ungkapnya.

Ia menyoroti pentingnya konsep “belajar tuntas” sebagai bentuk integritas dalam pendidikan. Menurutnya, keberhasilan lembaga pendidikan seperti pesantren salah satunya karena proses pembelajaran dilakukan secara mendalam dan berkelanjutan.

“Integritas dalam pendidikan itu belajar secara tuntas. Kalau belajar setengah-setengah, hasilnya juga tidak maksimal. Pesantren berhasil karena pembelajarannya mendalam dari awal hingga akhir,” terangnya.

Selain mengembangkan teori dan riset di lingkungan akademik, Prof. Kisbiyanto mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya bersama masyarakat. Baginya, teori keilmuan yang kuat justru lahir dari pengalaman dan interaksi langsung dengan kehidupan sosial.

“Teori tidak bisa hanya dibuat di kampus. Teori harus lahir dari masyarakat. Karena itu, saya lebih sering turun ke desa, melakukan riset, seminar, dan pelatihan. Semua teori yang baik harus berangkat dari realitas masyarakat,” terangnya.

Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Abdurrahman Kasdi, menyampaikan bahwa dengan pengukuhan tersebut, jumlah guru besar di UIN Sunan Kudus kini mencapai 17 orang. Menurutnya, dalam prosesi pengukuhan kali ini sebenarnya terdapat dua calon guru besar yang akan dikukuhkan. Namun, satu di antaranya mengalami kendala teknis sehingga hanya satu orang yang dapat mengikuti prosesi pengukuhan.

“Alhamdulillah acara pengukuhan semarak dan berjalan lancar. Untuk target, secara prinsip setiap prodi (program studi) harus memiliki guru besar agar dapat menjaga mutu pendidikan di perguruan tinggi,” tuturnya.

Jumlah program studi jenjang sarjana (S1) di UIN Sunan Kudus saat ini mencapai 27 prodi. Selain itu, terdapat sembilan prodi pada program pascasarjana. Meski demikian, Kasdi menegaskan bahwa sivitas akademika UIN Sunan Kudus akan terus meningkatkan kualitas pendidikan dengan menambah jumlah guru besar.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER