Di Bandungrejo Jepara, Warga Lebih Pilih Bayar Admin daripada Antre di Bank

BETANEWS.ID, JEPARA — Bagi Sulis Nor Afif (28), pengrajin konveksi di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, jarak tiga kilometer atau sekitar delapan menit ke ATM sebenarnya bukan masalah. Namun, setiap membutuhkan uang tunai, ia memilih belok ke warung fotokopi di ujung jalan yang hanya berjarak dua menit dari rumahnya.

“Tiap hari kerjaannya banyak, ngambil sama nganter bahan ke penjahit. Jadi kalau butuh uang tunai, daripada ke ATM, mending ke sini (Agent BRILink). Bayar adminnya juga masih terjangkau. Cari yang cepat dan praktis saja,” ujar Sulis saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pilihan Sulis bukan pengecualian. Di Desa Bandungrejo, kebiasaan itu sudah menjadi pola. Warga lebih memilih membayar biaya admin Rp5.000 hingga Rp7.000 di warung BRILink daripada harus antre di bank atau berhadapan dengan mesin ATM.

-Advertisement-

Warung yang dituju adalah milik Ulul Isbah (50), yang berlokasi di Jalan Raya Purwogondo, jalur alternatif Jepara-Kudus di Kecamatan Kalinyamatan. Kini, warung tersebut berfungsi layaknya bank desa bagi warga sekitar.

Dari tua hingga muda, laki-laki maupun perempuan, tampak sabar mengantre menunggu giliran untuk dilayani di warung milik Ulul Isbah.

Ditemui di kediamannya yang berada di belakang warung, Ulul bercerita bahwa usaha yang kini ramai itu lahir dari titik paling berat dalam hidupnya. Ia membangun semuanya dari nol, satu tahun setelah kehilangan pekerjaan.

Ulul sebelumnya bekerja sebagai karyawan pabrik kayu lapis di Juwana, Kabupaten Pati, sejak 1999. Setelah lima tahun bekerja, pada 2004 ia terkena PHK. Kondisi itu datang pada masa yang tidak mudah.

“Saat itu saya baru saja menikah, tidak punya pekerjaan. Akhirnya coba-coba buka warung konter, jualan pulsa sama HP second,” ujar Ulul sembari mengenang masa merintis usaha.

Keteguhan Ulul untuk tidak menyerah pada keadaan mempertemukannya dengan sejumlah pihak yang memberikan peluang usaha baru. Ia ditawari mesin fotokopi, lalu usahanya merambah penjualan alat tulis kantor (ATK), rokok, serta makanan ringan.

Sekitar tahun 2010, usaha Ulul semakin berkembang. Ia bergabung menjadi agen PPOB (Payment Point Online Bank) yang melayani pembayaran berbagai tagihan, mulai dari listrik, PDAM, BPJS, hingga pembelian pulsa dan paket internet.

Saat itu, di sepanjang Jalan Raya Purwogondo, hanya warung Ulul yang melayani pembayaran tagihan. Ia bahkan bekerja sama dengan Karang Taruna Desa Bandungrejo untuk menarik tagihan listrik langsung ke rumah-rumah warga.

Komisi yang diperoleh dibagi dua. Dalam sehari, Ulul mampu menyetor uang tunai ke bank hingga Rp15 juta sampai Rp20 juta. Dari kebiasaan menyetor itulah usahanya terus berkembang.

“Saya setornya di BRI. Saat setor itu, BRI menawarkan untuk jadi Agent BRILink. Saya terima saja. Itu sekitar tahun 2020,” tutur Ulul.

Setelah mengurus administrasi dengan menyertakan KTP, Ulul menerima fasilitas EDC dari BRI. Layanan warungnya pun bertambah karena kini bisa melayani transfer dan setor tunai. Ia menjadi satu-satunya Agent BRILink di kawasan tersebut.

Namun, satu tahun kemudian, banyak konter dan warung kecil di sekitarnya yang mulai bergabung menjadi Agent BRILink. Meski persaingan semakin ketat, Ulul tidak gentar. Ia percaya setiap orang memiliki rezekinya masing-masing.

Hal itu terbukti. Warungnya hingga kini tetap menjadi andalan berbagai kalangan. Para pengusaha konveksi yang menjadi tulang punggung ekonomi Desa Bandungrejo sebagai sentra pengrajin konveksi di Kecamatan Kalinyamatan kerap mampir untuk melakukan tarik tunai. Sekali transaksi, nominalnya bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta.

Saat musim panen mangga tiba, para pengepul mangga juga mengandalkan warung Ulul. Nominal transaksinya jauh lebih besar, yakni berkisar Rp50 juta hingga Rp80 juta dalam sekali transaksi.

“Alasannya bilang tidak mau antre di bank. Daripada antre, katanya lebih baik bayar biaya admin,” ungkap Ulul.

Saat musim pencairan bantuan sosial (bansos), baik Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), warungnya juga tidak pernah sepi. Biaya admin yang dikenakan terbilang ringan, yakni Rp5.000 per transaksi sesama BRI, Rp5.000 untuk tarik tunai di bawah Rp1 juta, dan Rp7.000 untuk nominal di atas Rp1 juta.

Solekan (60), warga Desa Bandungrejo, merupakan salah satu pelanggan setia yang datang bukan untuk transaksi besar. Setiap bulan, ia mengandalkan warung Ulul untuk membayar tagihan listrik rumahnya setelah karyawan yang biasa mengurus tagihan tersebut berhenti bekerja.

“Sekarang bayar listrik sendiri. Bayarnya di sini dekat, gampang, tiap bulan pasti ke sini,” ujar Solekan.

Dosen Magister Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, Mohamad Rifqy Roosdhani, menjelaskan bahwa perilaku warga Desa Bandungrejo yang lebih memilih agen BRILink dibandingkan mesin ATM, meskipun jaraknya dekat, mencerminkan pergeseran perilaku konsumen yang lebih mendalam.

Dalam teori manajemen, jika dahulu perbankan bertumpu pada konsep 4P (Product, Price, Promotion, Place), kini pendekatannya bergeser ke konsep 4C (Customer/Convenience, Cost, Communication, Co-creation). Perubahan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan tentang bagaimana layanan keuangan beradaptasi dengan karakter psikologis masyarakat di wilayah subperkotaan (suburban).

Aspek convenience atau kenyamanan menjadi kunci utama mengapa agen BRILink dianggap lebih unggul daripada sekadar ketersediaan tempat. Bagi masyarakat desa, kenyamanan bukan hanya soal seberapa dekat lokasi bank, melainkan kemudahan dalam prosesnya. Rifqy mengatakan bahwa faktor pengalaman masyarakat dalam penggunaan teknologi memainkan peran krusial.

“Convenience ini bukan hanya masalah jarak, tetapi juga masalah pelayanan yang lebih personal. Ada juga beberapa yang takut menggunakan ATM, takut salah PIN, atau kartunya tertelan. Paradigma seperti itu membuat masyarakat di daerah lebih nyaman dibantu oleh agen daripada berurusan dengan mesin,” jelas Rifqy saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Selain faktor psikologis, pergeseran dari price ke total cost juga terlihat nyata. Masyarakat tidak lagi hanya menghitung besaran biaya administrasi, tetapi juga memperhitungkan nilai kemudahan dan efisiensi waktu. Di agen BRILink, masyarakat merasa biaya total yang mereka keluarkan sepadan dengan pelayanan langsung layaknya customer service pribadi tanpa harus mengantre panjang di kantor bank konvensional.

“BRI dalam hal ini adalah bank rakyat Indonesia. Jika memilih membuka agen-agen BRILink dengan cakupan layanan yang luas, itu tepat menurut saya,” ujar Rifqy.

Warung milik Ulul kini telah berkembang jauh dari titik awalnya sebagai konter pulsa pada 2005. Lebih dari sekadar tempat fotokopi atau pembayaran tagihan, warung itu menjadi bukti nyata bahwa inklusi keuangan tidak selalu datang dari gedung bank. Terkadang, cukup dari sebuah warung pinggir jalan dengan pemilik yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER