Kelola Sampah Mandiri, Desa Tempur Tunggu Dukungan Alat dari Pemkab Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, tahun ini berupaya menjadi desa mandiri sampah. Upaya tersebut diawali dengan pembentukan Bank Sampah Tempur Berseri pada 2020.

Kepala Desa Tempur, Mariyono, mengatakan pembentukan bank sampah itu awalnya bertujuan memilah sampah yang memiliki nilai jual.

Petugas akan mengambil sampah dari rumah warga, kemudian menempatkannya di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

-Advertisement-

“Dari TPS3R nanti akan diambil oleh DLH (Dinas Lingkungan Hidup) setiap satu minggu sekali,” kata Mariyono saat ditemui di Balai Desa Tempur, Rabu (10/6/2026).

Namun, setiap pengambilan selalu terdapat sampah yang tertinggal hingga akhirnya menyisakan tumpukan sampah yang menimbulkan masalah baru. Pihak DLH terakhir mengambil sampah pada 2025.

“Pada Januari 2026 kemarin, kami berupaya mengelola sampah secara mandiri,” ungkap Mariyono.

Selain itu, setelah Desa Tempur berkembang menjadi desa wisata, volume sampah yang dihasilkan meningkat. Karena itu, pihak desa memutuskan untuk mengelola sampah secara mandiri.

Baca juga : Serapan Pupuk Subsidi Jepara Tertinggi Kedua di Jateng

Namun, Mariyono mengatakan keputusan tersebut tidak dilakukan secara mendadak. Pihaknya telah melakukan berbagai persiapan.

Di antaranya pada 2022 dengan menggandeng perguruan tinggi dari Jakarta untuk menggelar sosialisasi sadar lingkungan kepada warga Tempur.

Kemudian pada 2023, pihak desa membeli kendaraan roda tiga dan pada 2025 mendapat bantuan mobil bak terbuka untuk mengangkut sampah.

Dua kendaraan tersebut kini digunakan untuk menjemput sampah dari rumah warga. Penjemputan dilakukan tiga hari dalam seminggu, dengan jumlah sampah yang diangkut sekitar 1 hingga 2,5 ton setiap kali pengangkutan.

“Pada tahun ini juga ada bantuan alat pemilah sampah dari PLTU, sehingga sampah organik dan nonorganik bisa terpilah secara otomatis,” kata Mariyono.

Namun, pengelolaan sampah secara mandiri tersebut masih terkendala kurangnya peralatan, terutama alat untuk mengolah sampah plastik atau nonorganik.

Untuk sementara, sampah plastik hanya dibakar. Sementara itu, sampah organik diolah menjadi pupuk yang rencananya akan dipasarkan kepada warga.

“Harapannya, ada peran dari pemerintah daerah untuk membantu memenuhi kebutuhan alat pengelolaan sampah nonorganik, berupa insinerator atau alat lain yang dapat digunakan untuk mengolah sampah,” harapnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER