18 Gunungan Meriahkan Parade Sewu Kupat, Tradisi Syawalan di Kudus yang Terus Lestari

BETANEWS.ID, KUDUS – Ribuan warga banjiri Parade Sewu Kupat, di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (28/3/2026). Kegiatan yang merupakan perayaan Syawalan itu selalu digelar setiap tahun, setelah tujuh hari Lebaran Idulfitri.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, antusias pengunjung dalam perayaan tradisi ini sangat tinggi. Bahkan tradisi yang dipercaya warga untuk mencari keberkahan dari Kanjeng Sunan Muria itu ada belasan gunungan yang dibawa oleh desa-desa di Kecamatan Dawe, khususnya Desa Colo.

Ketua Panitia Parade Sewu Kupat, Suwanto menyebut, bahwa perayaan tradisi Parade Sewu Kupat tahun ini jauh lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan perayaan yang rutin digelar setiap tahun itu menyasar semua elemen masyarakat secara umum warga Kabupaten Kudus dan secara khusus masyarakat Kecamatan Dawe.

-Advertisement-

“Baik dari ormas (organisasi masyarakat) hingga semua kalangan, khususnya warga Desa Colo. Yang membedakan mungkin, tahun ini tidak mengadakan lomba gunungan seperti tahun-tahun sebelumnya,” bebernya usai acara, Sabtu (28/3/2026).

Sedikitnya ada sebanyak 18 gunungan yang diarak mulai Makam Sunan Muria hingga Taman Ria yang menjadi titik kumpul perayaan Parade Sewu Kupat. Belasan gunungan itu berasal dari masing-masing desa di Kecamatan Dawe, yang berisikan kupat, lepet, dan sejumlah hasil bumi di wilayah tersebut.

Ia menuturkan, terkait wacana tradisi pemecahan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI), pihaknya mengaku belum bisa melaksanakan. Karena jumlah kupat pemecahan MURI sudah ada di tempat lain dengan jumlah hingga 67 ribu kupat.

Baca juga: Kirab Kerbau Bule Meriahkan Rangkaian Tradisi Pesta Lomban di Jepara 

Sehingga dengan hanya seribu kupat, hal itu belum cukup untuk memecahkan rekor sebelumnya. Untuk itu pihak panitia hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus berpikir ulang.

“Kemarin kita sudah berkoordinasi dengan pihak MURI, tapi jumlah dari seribu kupat itu sudah ada yang memecahkan hingga mencapai 67 ribu kupat. Maka dari itu, untuk MURI kita masih berpikir lagi apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” ujarnya.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris turut mengapresiasi pelaksanaan tradisi yang selalu digelar tersebut. Menurutnya, adanya kegiatan secamam itu dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan dampaknya ekonomi kerakyatan berjalan dengan sangat baik.

“Ini sebagai bentuk destinasi wisata, juga sebagai bentuk peningkatan ekonomi masyarakat, ya. Semoga dengan adanya kegiatan ini, yang tiap tahun diadakan ini menarik wisatawan di Kabupaten Kudus dan efeknya akan meningkatkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, bahwa antusias warga dalam perayaan Lebaran Ketupat di Kudus sangat tinggi. Mengingat ada sebanyak 6-7 titik perayaan yang tersebar di sejumlah daerah, seperti Parade Sewu Kupat di Colo, ada Lomban di Kesampi, tradisi Bulusan di Hadipolo, kirab Sendang Jodo di Purworejo, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Komisi IX DPRD Provinsi Jawa Tengah, Musthofa turut mengapresiasi penyelenggaraan tradisi tersebut yang didukung oleh pemangku kebijakan, dalam hal ini Pemkab Kudus. Tradisi yang dibentuk sejak 2007 itu merupakan salah satu wujud dan hormat kepada Kanjeng Sunan Muria, dalam ajarannya sebagai wujud syukur hasil panen dan ajang silaturrahmi.

“Selepas siapapun pemangku wilayah yang menjabat, masih atau tidaknya (tradisi) adalah kewajiban masyarakat Colo dan sekitarnya untuk terus digelar setiap tahun,” terangnya.

Musthofa menegaskan, tradisi itu bukan milik perorangan, tapi milik warga Kecamatan Dawe. Ia berpesan untuk selalu menjaga kebersamaan, saling gotong royong antarwarga.

“Terlebih Colo ini sekarang jadi PCB (Persatuan Colo Bersatu). Jadi tidak ada lagi kelompok-kelompokan, saat ini menjadi guyub rukun antar warga. Saya tekankan lagi, tradisi ini bukan milik siapa-siapa, tapi milik warga Kecamatan Dawe,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER