BETANEWS.ID, KUDUS – Keberadaan kolam retensi senilai Rp350 miliar di Kabupaten Kudus kembali menjadi sorotan setelah ribuan warga Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, masih dilanda banjir. Genangan air bahkan mencapai ketinggian hingga 80 centimeter akibat cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Kolam retensi yang mulai beroperasi awal 2025 itu sebelumnya digadang-gadang mampu menanggulangi banjir di dua kecamatan, yakni Jati dan Kota. Namun di lapangan, warga menilai dampaknya belum terasa signifikan. Banjir masih rutin terjadi setiap tahun, baik sebelum maupun sesudah kolam retensi dibangun.
Baca juga: Longsor Menawan Makan Korban, Bupati Kudus Turun ke Lokasi Bencana
Warga Dukuh Tanggulangin, Sri Wahyuni, menyebut kondisi kampungnya tak banyak berubah. Setiap hujan dengan intensitas tinggi, air tetap menggenangi permukiman.
Bahkan, banjir tahun ini dinilai lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya karena ketinggian air mencapai 80 centimeter. Ia menuturkan, banjir mulai terjadi sejak Sabtu (10/1/2025) dan meningkat tajam dalam dua hari terakhir.
Keluhan serupa disampaikan Ali Arwan (57). Menurutnya, kolam retensi belum memberikan pengaruh besar terhadap pengurangan banjir. Meski rumahnya telah ditinggikan, air tetap masuk hingga sebetis.
Ia menilai cuaca ekstrem membuat kolam retensi kewalahan menampung debit air yang sangat besar.
Sementara itu, Kepala Desa Jati Wetan, Agus Susanto, menyebut sekitar 1.000 kepala keluarga atau 3.500 jiwa terdampak banjir yang tersebar di empat dukuh.
Baca juga:Â Bikin Haru, Warga Kesambi Kudus ini Gelar Pernikahan di Tengah Banjir
Ia menegaskan, fungsi kolam retensi sejatinya untuk mengurangi debit air, bukan menghilangkan banjir sepenuhnya. Menurutnya, tanpa kolam retensi, banjir kemungkinan terjadi lebih awal dengan ketinggian lebih parah.
Saat ini, proses pemompaan air dari kolam retensi ke Sungai Wulan terus dilakukan. Sebanyak lima pompa beroperasi selama 24 jam nonstop.
Pemerintah desa berharap intensitas hujan segera menurun agar banjir dapat cepat surut dan efektivitas kolam retensi bisa kembali dirasakan warga.
Editor: Haikal

