BETANEWS.ID, KUDUS – Semprotan air tampak membasahi setiap orang yang melewati gapura masuk Dukuh Ongol-Ongol, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Gapura dengan tiang dari baja ringan dan banner bertuliskan ‘Ongol-Ongol Bersatu Melawan Covid-19’ itu ternyata memiliki sistem otomatis penyemprotan disinfektan.
Di sisi gapura, tampak lima orang sedang mengecek disinfektan yang harus diisi ulang jika habis. Satu diantaranya adalah Yusuf Achmad Khundori (34), Ketua Relawan Covid-19 Dukuh Ongol-ongol.
Pria yang akrab disapa Yusuf itu mengatakan, pembangunan gapura tersebut dilakukan secara swadaya dan menghabiskan dana Rp 2,5 juta untuk setiap gapura.
Baca juga: Meski Penting, Warga Luar Desa yang Berkunjung ke Wonosoco Tak Boleh Lebih dari 10 menit
“Dana kami kumpulkan dari swadaya masyarakat. Semua warga ikut berpartisipasi dengan dipelopori pemuda Dukuh Ongol-Ongol. Dari dana yang dikumpulkan bisa membuat dua gapura seperti ini,” terangnya saat ditemui, Kamis (30/4/2020).
Warga RT 02 RW 02 itu merinci, bahan yang dibutuhkan untuk membuat gapura sterilisasi, diantaranya sensor gerak, pompa air, baja ringan, mika, selang, nozzle, dan drum air. Proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar dua hari.
“Kami sudah izin ke babinsa, bhabinkamtibmas, dan meminta pendampingan dari desa. Tetapi sejauh ini dari desa belum ada pendampingan. Kalau babinsa dan bhabinkamtibmas sudah kemari untuk mengawal, tapi desa belum,” bebernya.
Menurutnya, semua orang di dukuhnya menjadi anggota relawan Covid-19, untuk gotong royong memerangi Covid-19.
“Tidak ada pendataan. Semua warga menjadi relawan dengan kesadaran masing-masing. Selain penyemprotan disinfektan di jalan masuk dukuh, kami juga melakukan kegiatan penyemprotan di jalan dan rumah warga. Semua anggaran dari swadaya,” jelasnya.
Baca juga: Satu Warganya Positif Covid-19, Desa Kutuk Berlakukan Lockdown
Sementara itu, Kepala Desa Lau Rawuh Hadiyanto mengakui, pihak desa masih ada keterbatasan, sehingga warga bergerak secara swadaya. Makanya, dia sangat mengapresiasi dan mendukung hal tersebut.
“Saya merasa terharu dan salut dengan masyarakat Lau. Tentu mendukung hal tersebut, karena tidak ada yang tahu kapan virus bisa masuk. Saya juga minta maaf belum bisa memfasilitasi,” tutupnya saat ditemui di Balai Desa Lau.
Editor: Ahmad Muhlisin

