BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak ribuan bungkus air salamun akan dibagikan kepada warga sekitar, dalam tradisi Rabu Wekasan di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo. Air Salamun dipercaya masyarakat dapat memberikan keberkahan dan melindungi bala musibah.
Ketua Panitia Tradisi Kirab Air Salamun Rabu Wekasan Desa Jepang, Nur Aziz menyampaikan, ada sebanyak 15.000 bungkus air salamun akan didistribusikan atau dibagikan kepada warga masyarakat sekitar. Taknhanya warga Jepang, warga luar desa pun biasanya juga ikut mengantre demibmendapatkan air keberkahan tersebut.
Baca Juga: Jaga Warisan Leluhur, Prosesi Ngangsu Banyu Bakal Hadirkan Pameran Puisi Rupa di Rejosari Kudus
Rencananya, kata dia, pembagian air itu akan didistribusikan setelah magrib. Untuk ukuran per satu bungkus air salamun itu sekitar 2-3 liter yang berguna untuk diminum maupun basuh muka.
“Setiap tahun kami memang selalu menyediakan dan membagikan Air Salamun ini kepada masyarakat. Seperti tahun lalu kurang lebih ada 13.000 bungkus, dan di tahun ini sebanyak 15.000 bungkus,” ungkapnya.
Ia menuturkan, pembagian itu berlaku sampai pukul 24.00 WIB, selebihnya masyarakat umum bisa mengambil sendiri di sumur yang berada di dalam masjid. Ia menyebut, air itu berguna dan bermanfaat serta dipercaya oleh masyarakat dapat menyembuhkan penyakit.
“Karena air yang dibagikan ini merupakan air yang diambil dari sumur peninggalan Sunan Kudus. Dari tahun ke tahun, selalu dilestarikan untuk tradisi ini, hingga ada kirab air Salamun yang melibatkan warga masyarakat Desa Jepang,” bebernya.
Berbagai potensi Desa Jepang, lanjut dia, juga turut diarak bersama air Salamun yang diambil dari sumur Masjid Jami Wali Al Ma’mur. Di antaranya meliputi, kerajinan bambu yang dikreasikan menjadi berbagai produk UMKM.
“Ada juga gunungan yang memeriahkan kirab budaya itu,” tuturnya.
Baca Juga: Lewat Festival Kali Juwana, Jampisawan Kampanyekan Cinta Sungai dan Lingkungan
Salah satu mahasiswa dari UMK Kudus yang ikut hadir dalam kirab, Rizky Fauziyah Nur Naila mengaku senang dapat melihat langsung tradisi di sana. Menurutnya, itu merupakan pengalaman pertama hingga membuatnya berkesan akan adanya tradisi kirab tersebut.
“Bagus, terselenggara meriah dan ini baru pertama kali saya melihat tradisi ini. Tradisi semacam ini sangat penting dan harus dilestarikan supaya anak muda bisa mengetahui sejarah dan budaya di desanya,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

