31 C
Kudus
Rabu, Februari 18, 2026

Jeritan Warga Kedungmalang Jepara, Setiap Tahun Alami Krisis Air Bersih

BETANEWS.ID, JEPARA – Drum berwarna biru dengan ukuran sekitar 120 liter tampak berjejer di depan setiap rumah warga di Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara tepatnya yang berada di sebelah barat jembatan perbatasan Jepara-Demak.

Drum tersebut oleh warga digunakan untuk menampung air kiriman dari truk tangki PDAM Jepara. Mereka mendapat kiriman air, karena air dari PDAM tidak bisa mengalir dengan lancar ke setiap rumah warga terutama yang berada di RT 3-5 RW 3, Desa Kedungmalang.

Baca Juga: Tak Mendapat Izin, Berikut Fakta Rencana Investasi Peternakan Babi di Jepara

-Advertisement-

Muhammad (60), Warga RT 5 RW 3 Desa Kedungmalang bercerita kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar empat tahun yang lalu. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, ia hanya mengandalkan kiriman air dari truk tangki PDAM.

“Kalau dari PDAM itu sudah ngga ngalir kira-kira empat tahun, kalau butuh air disuplai dari tangki, biasanya datangnya 2-3 hari sekali,” katanya saat ditemui di kediamannya pada Rabu, (6/8/2025).

Namun, meski air dari PDAM tidak bisa mengalir dengan lancar ia mengaku masih mendapat tagihan bulanan sekitar Rp25-30 ribu per bulan. Jika telat membayar tagihan ia juga dikenai denda sebesar Rp3-5 ribu per bulan.

“Setiap hari ngga pernah ngalir tapi bulanannya masih tetep disuruh bayar, kalau tidak bayar dikenakan denda,” ungkapnya.

Sementara itu, Sri (60) Warga RT 3 RW 3 juga mengatakan bahwa aliran air dari PDAM di rumahnya memang tidak pernah mengalir dengan lancar.

Saat air dari PDAM tidak mengalir, ia harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp25 ribu per hari untuk memenuhi kebutuhan air di rumahnya. Sedangkan untuk air minum ia harus membeli lagi sebesar Rp20 ribu per minggu.

Selain itu ia juga masih diharuskan untuk membayar tagihan bulanan dari PDAM sekitar Rp26-38 ribu per bulan.

“Ini sudah dua hari mati, ngalirnya itu kadang lima hari, nanti mati lagi tiga hari, kadang seminggu. Ngalirnya memang ngga lancar, tapi kadang ya masih ngalir,” katanya saat ditemui di kediamannya.

Hal serupa juga turut disampaikan oleh Tarmiji (70), Warga RT 3 RW 3. Setiap hari ia harus membeli air dengan harga Rp25 ribu untuk 13 galon dengan ukuran 15 liter.

Ia tadinya juga merupakan pelanggan PDAM. Namun saat ini jaringan air PDAM di rumahnya sudah diputus oleh petugas. Jaringan tersebut diputus setelah ia menyampaikan keluhannya kepada petugas.

Baca Juga: Butuh 102 Dapur MBG, Jepara Baru Miliki 8 Dapur MBG yang Sudah Beroperasi 

“Kalau sekarang saya sudah ngga kena tagihan, sudah lapor sama petugas akhirnya meteran airnya disegel. Kalau ngga lapor ya tetap bayar,” katanya.

Tarmiji mengatakan dari pihak desa sebenarnya sudah memberikan bantuan berupa sumur bor yang dialirkan ke rumah warga di blok RT 3-5 RW 3. Namun air tersebut asin sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER