BETANEWS.ID, JEPARA – Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RA Kartini, jumlah pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) pada bulan Januari 2024 mengalami lonjakan menjadi 145 kasus.
Namun berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, sesuai dengan data dari Elektronik DBD (E-DBD) per tanggal 27 Januari 2024, hanya terdapat 18 pasien yang dinyatakan positif DBD. Kemudian 120 diantaranya berstatus suspek atau tidak memenuhi salah satu kriteria untuk dinyatakan positif DBD.
Baca Juga: Waspada! Kasus DBD di Jepara Meroket Capai 145 Pasien, Dua Meninggal
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Jepara, Dr. Eko Cahyo Puspeno mengatakan di tengah melonjaknya kasus penyakit DBD saat ini, dibutuhkan kesadaran bersama dari masyarakat untuk memberantas penyakit tersebut.
Salah satunya dengan mengenali tempat-tempat yang menjadi area bersarangnya jentik nyamuk. Ia menjelaskan bahwa jentik nyamuk tidak hanya berkembang di area luar rumah, tetapi juga di dalam rumah.
“Bak mandi, kolam air, itu harus dibersihkan secara rutin. Kemudian sisa air di dispenser, belakang kulkas itu juga sering menjadi area sarang nyamuk. Area-area di luar rumah seperti cekungan pohon, itu juga rawan. Sehingga dibutuhkan kesadaran bersama dari masyarakat untuk memberantas virus DBD,” jelasnya pada Selasa (30/1/2024) di Kantor Dinkes Jepara.
Lebih lanjut ia menekankan, bahwa masyarakat juga perlu menyadari jam-jam rawan siklus penyebaran virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus.
Saat pagi hari yaitu sekitar pukul 07.00 – 09.00 WIB. Sedangkan saat sore yaitu sekitar pukul 15.00 – 17.00 WIB.
“Ketika masyarakat sadar dan paham bagaimana siklus perkembiakam nyamuk maka harapannya bisa melindungi diri dan keluarga terutama anak kecil dari gigitan nyamuk. Dan kenapa anak kecil itu juga rawan, karena kurang perlindungan dari gigitan nyamuk pada jam-jam itu,” tambahnya.
Baca Juga: Pameran JIF-BW Bakal Kembali Launching, Catat Tanggalnya
Selain itu ia juga menekankan, bahwa penanganan penyakit DBD tidak cukup hanya dengan melakukan fogging atau penyemprotan. Sebab fogging hanya bisa mematikan nyamuk dewasa. Sedangkan siklus nyamuk dewasa saat bertelur bisa mencapai 100-200 jentik nyamuk.
“Kalau ada banyak nyamuk yang menetas, maka akan ada banyak pasukan pembawa virus dan itu tidak bisa dibunuh menggunakan fogging, tapi bisa dicegah melalaui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M plus yang dilakukan serentak dan kontinyu,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

