31 C
Kudus
Rabu, Februari 18, 2026

Sesal Petani Undaan, Ikut-ikutan Tanam Padi Ketan Malah Kini Harganya Anjlok

BETANEWS.ID, KUDUS – Petani di Kecamatan Undaan, terutama Desa Undaan Lor, tengah merasakan penyesalan akibat harga padi varietas ketan yang kini menjadi Rp6.200 per kilogramnya. Padahal, musim tanam pertama (MT 1) tahun lalu, harga ketan sempat menyentuh angka Rp10.000 per kilogram.

Salah satu petani, Nur Said (45), mengaku sedikit menyesal dengan kondisi panen raya ini, karena harga padi biasa atau berjenis 64, malah lebih tinggi ketimbang harga ketan. 

“Kalau secara pasti saya kurang tahu harganya karena memang belum potong. Tapi dengar-dengar harga gabah mencapai sampai Rp7.000 per kilogram, sedangkan harga ketan Rp6.200 per kilogram,” bebernya saat ditemui usai melakukan penyemprotan tanaman di sawahnya, Kamis (20/2/2025).

-Advertisement-

Baca juga: Dispertan Sebut Petani Undaan jadi Penyebab Gagalnya Ketahanan Pangan di Kudus

Meski begitu, ia tak begitu memikirkan hal tersebut, lantaran hasil panen ketan tetap lebih memuaskan dibandingkan padi. Sebab menurutnya, bobot ketan yang dihasilkan lebih berat sehingga tetap memberikan keuntungan lebih bagi petani.

“Kalau ketan itu lebih menguntungkan. Hasilnya memuaskan meski harganya turun. Karena memang hasilnya itu lebih banyak ketan meskipun dengan ukuran lahan yang sama,” jelas warga Undaan Lor RT 7 RW 2 itu.

Pihaknya mengungkapkan, ketan lebih tahan terhadap serangan hama wereng (serangga), yang menjadi momok bagi petani. Hal itu juga menjadi salah satu pemicu, dirinya memilih menanam ketan dibandingkan padi biasa.

“Sekarang ini pupuk mahal, hama tikus dan wereng sering menyerang. Kadang petani menyesal juga, tapi, ya, mau bagaimana lagi,” keluhnya.

Kepala Desa Undaan Lor, Nurul Womar, membenarkan, bahwa saat ini wilayahnya tengah memasuki masa panen raya. Ia mengatakan, sekitar 99 persen petani di desanya menanam ketan pada musim tanam pertama (MT1), sedangkan padi biasa lebih banyak ditanam di musim tanam kedua (MT2).

“Kontur tanah di Undaan Lor cenderung cekung sehingga rawan banjir saat musim hujan. Ketan dipilih karena lebih tahan terhadap genangan air dibanding padi biasa,” ujarnya.

Nurul juga mengakui adanya perubahan harga hasil panen padi di daerahnya. Pekan lalu harga ketan di angka Rp6.600 per kilogram, sekarang turun jadi Rp6.200. Tapi petani tetap merasa untung karena hasil panennya lebih banyak. Dari satu kotak lahan (1.000 meter persegi), mereka bisa panen lebih dari satu kuintal ketan.

Baca juga: Petani Kudus Semringah Presiden Prabowo Buat Kebijakan Gabah Dibeli Bulog

Meski begitu, pihak desa berupaya untuk mendorong petani dalam mempertimbangkan penanaman padi pada MT 2 mendatang demi mendukung ketahanan pangan. Hal itu sebagai bentuk dukungan sesuai yang diinginkan Presiden Prabowo.

“Harapan kami, MT kedua nanti petani bisa beralih ke padi. Itu juga sesuai anjuran pemerintah untuk menjaga pasokan beras,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan panen tahun ini juga didukung oleh kerja sama yang baik antara petani, pengelola irigasi (P3A), dan pemerintah desa, beserta Dispertan.

Alhamdulillah dengan tanam awal dan koordinasi yang baik, genangan air tidak terlalu parah seperti tahun lalu,” imbuhnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER