BETANEWS.ID, JEPARA – Masyarakat Desa Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara mengaku kecewa dengan kinerja dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Jungporo atau PDAM Jepara.
Petinggi Desa Karimunjawa, Arif Setiawan mengatakan selama sebulan lalu warga Desa Karimunjawa sempat mengalami krisis air bersih. Namun beruntung masyarakat saat ini sudah mendapat dropping air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara.
Baca Juga: Mulai Masuki Musim Hujan, Petani Jagung di Jepara Terancam Gagal Panen
“Sebulan kemarin sempat krisis air bersih akibat kekeringan. Tapi alhamdulillah sekarang sudah dikover BPBD,” katanya melalui sambungan telepon, Kamis (10/10/2024).
Arif bercerita selama delapan tahun terakhir, mayoritas warga Desa Karimunjawa mengandalkan aliran air dari Legon Lele. Sumber mata air tersebut saat ini dikelola oleh PDAM Jepara.
Berdasarkan data PDAM, ada 688 warga yang menjadi pelanggan, meliputi wilayah Dusun Legon Lele dan Legon Gobrak. Jika kondisi normal, kapasitas air di sumber Legon Lele mencapai 7,5 liter per detik. Namun saat musim kemarau, debit airnya hanya 2,7 liter per detik.
Arif mengatakan bahwa warganya sudah tidak suka dengan pelayanan dari PDAM. Sebab sebelum dikelola PDAM, sumber air di Legon Lele dikelola secara swadaya dengan sistem Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Masyarakat (Pamsimas) desa.
Namun, setelah dikelola secara profesional oleh PDAM ia tidak melihat ada kemajuan nyata. Karena wilayah tersebut masuk dalam wilayah taman nasional, maka sumber air seharusnya tidak boleh dikomersilkan. Sejauh ini, PDAM juga tidak pernah mengubah apapun di sumber air Legon Lele. Misalnya, instalasi masih sama ketika bersistem Pamsimas. PDAM hanya menggunakan gravitasi air.
“Mestinya kalau profesional, misalnya saat kekeringan seperti ini, PDAM mendatangkan mesin pendorong. Supaya air tetap bisa mengalir lancar. Nyatanya tidak ada. Jadi dimana profesionalnya,” ujarnya.
Menurut Arif, sumber air mestinya bisa dikelola oleh masyarakat dengan sistem Pamsimas. Tahun lalu, pihaknya sudah bersurat hasil musyawarah desa kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.
“Tahun lalu sudah ada musyawarah. Isinya, masyarakat Desa Karimunjawa meminta agar sumber air yang dikelola PDAM dikembalikan kepada masyarakat untuk dikelola secara swadaya. Tapi sampai sekarang surat itu tidak ada jawaban,” ungkapnya.
Baca Juga: Fornel dan Gus Nung Sepakat Tolak Tambang Pasir Laut
Menanggapi hal tersebut, Aji Asmoro, Kepala Bagian Perencanaan PDAM Jepara, mengaku tak bisa berbuat banyak menghadapi kondisi krisis air bersih seperti saat ini. Sejauh ini, PDAM hanya mengandalkan air baku dari Legon Lele dan Legon Gobrak. Pihaknya menyebut setiap bulan September-Desember, debit air baku di sana selalu berkurang drastis.
“Setiap musim kemarau pasti kekurangan air. Tapi karena wiayah itu masuk dalam taman nasional, maka PDAM tidak boleh membuat sumur bor. Ada rencana pembuatan embung tapi sampai saat ini juga belum bisa terealisasi,” katanya saat ditemui di Kantor PDAM Jepara.
Editor: Haikal Rosyada

