BETANEWS.ID, PATI – Beberapa orang yang mengenakan kaus berwarna biru dengan penutup kepala warna putih tampak membuat adonan roti. Mereka tampak cekatan membuat roti dengan aneka isian atau varian rasa.
Mereka ini merupakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pati yang telah memiliki keterampilan membuat roti. Bahkan, di antara mereka sudah mengantongi sertifikat pelatihan tata boga untuk membuat aneka roti.

Roti-roti buatan warga binaan ini bukan untuk dinikmati sesama warga binaan, tapi dipasarkan untuk masyarakat umum. Beberapa produk buatan mereka di antaranya jenis danish, kompyang, coffee bun, dan roti isi pisang cokelat. Roti-roti itu dikemas cantik dalam plastik bening berlabel “Pas_ti SAE Cake & Bakery”.
Baca juga: Batik Karya Warga Binaan Lapas Perempuan Semarang Terjual hingga Mancanegara
Salah satu Warga Binaan Pemuka Kegiatan Kerja Lapas Pati, Karji, mengatakan, kegiatan tata boga di lapas tersebut sudah berlangsung dua tahun.
“Respon dari rekan-rekan warga binaan sangat baik. Mereka mengikuti kegiatan ini untuk menghabiskan waktu secara positif. Di sini kan masa-masa yang sangat jenuh tapi bisa diisi kegiatan produktif,” ujarnya, Selasa (19/9/2023).
Ia menyebut, seiring berjalannya waktu, kapasitas produksi roti juga terus meningkat. Dari yang awalnya hanya 1 hingga 2 kilogram adonan per hari, kini berlipat menjadi 20 kilogram adonan per hari. Dari adonan sebanyak itu, bisa menghasilkan 800-1000 biji roti. Bahkan menurutnya, kalau ada event tertentu, bisa sampai 35 kilogram sehari, sehingga mereka harus lembur.
Menurut Karji, kegiatan ini bermanfaat, baik bagi warga sekitar, negara, maupun napi yang terlibat. Bagi negara, sebagian hasil penjualan roti di setor sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sementara, bagi napi, kegiatan tersebut memberi penghasilan dan melengkapi keterampilan kerja mereka.
Baca juga: Gibran Tengok Rutan di Solo yang Punya Usaha Konveksi Hasil Kerjaan Warga Binaan
“Warga binaan jadi punya keterampilan, apalagi kami terlebih dulu mendapat pelatihan sebelum terjun ke produksi,” imbuhnya.
Kasi Pembinaan Narapidana Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Binadik dan Giatja) Lapas Pati, Eko Budihartanto, menjelaskan, roti buatan para napi ini dijual dengan harga Rp2.500 per biji di gerai Pastea Kopi.
Kedai itu berada di sebelah selatan Lapas Pati. Di kedai itu, selain menjajakan roti juga menjual aneka kopi hasil olahan napi. Roti juga dikirimkan ke sejumlah pemesan, termasuk beberapa instansi yang berlangganan.
“Kami akan tingkatkan produksi roti agar makin dikenal masyarakat luas,” ucapnya mewakili Kalapas Pati Febie Dwi Hartanto.
Baca juga: Cerita Warsinah Mengais Rezeki dari Balik Jeruji, Bisnis Kue dan Rotinya Kini Banyak Peminat
Eko menambahkan, produk roti mereka sudah mengantongi sertifikat produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal. Kualitas produk terjamin karena 13 warga binaan yang terlibat produksi, seluruhnya sudah mendapatkan sertifikat pelatihan tata boga.
“Saat ini, juga masih berlangsung pelatihan pengembangan jenis-jenis roti. Ada 40 orang yang ikut,” lanjut dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

